Assalamualaikum.. welcome to my blog, guys..!! ^_^

Adsense

Tuesday, January 20, 2015

Back to School!! The Whole Story

Receptionist baru di MAN Tuban
Jumat lalu Ifah digerebek sama dua teman jaman MA (sama seperti SMA), si Firda dan Iza. Firda lagi liburan setelah UAS sedangkan Iza minggat sebentar dari tempat kerjananya di koprasi simpan pinjam. Hahaha.. sempat gurau aja ke dia soal hukum simpan pinjam yang pernah Ifah dan teman-teman pelajari di mapel Fikih waktu Aliyah. Tapi, kata Iza alhamdulillah dia masih paham dan bilang kalau koprasinya itu masih mengikuti syariat Islam. Syukurlah.

Firda dan Iza datang untuk main saja. Berhubung hari Jumat, mereka main ke rumah cuma sebentar. Ada satu hal yang sempat Ifah tanya ke Firda, yaitu masalah SKHU dan SKHUAMBN yang belom sempat Ifah ambil.

Jadilah tadi setelah dari kampus langsung naik angkot ke MAN Tuban (sekolah Ifah). Sampai di MAN yang datang ada hanya Ifah, Firda, Adit, Tian dan menyusul Iffan (karena memang sudah janjian). Dari luar sih MAN masih sama seperti dulu. Cuma memang lebih tertata rapi saja. Maklum sudah hampir setahun nggak mampir setelah lulus.

Pas masuk ke bagian lobby kantor, booyahh!! Serasa kayak masuk ke bank syariah. Hehehe.. berubah banget. Lobby makin bersih, sofanya sudah nggak ada diganti sama kursi tunggu besi panjang seperti yang ada di rumah sakit atau bank. Di tempat yang sering digunakan sebagai pusat informasi sekarang jadi seperti tempat resepsionis hotel. Mejanya tinggi, backgroudnya ada logo Madrasah yang guede dan microphone meja seperti di meja-meja orang sidang. Keren. Ada juga TV plasma sekitar 40" nemplok di tembok mengarah ke tempat duduk tunggu. Pintunya juga ganti dari kaca, dan ruang TU (Tata Usaha)nya makin keren seperti kantoran (ya emang kantor).


Ini bagian pintu masuk ke kantor TU. TVnya itu loh!
Ciss, Tian tetep maksa buat di foto waktu ngantri legalisir tadi :P

Bukan hanya itu saja, menurut kabar dari adik-adik kelas ruangannya juga lebih diperbaiki. Ada juga pergantian ruang kelas. Ada poster-poster dan juga denah gedung yang dipasang di dekat tangga ke lantai dua. Pokonya luar biasa. Satu lagi, MAN makin banyak acara. Keren banget!!

Pintu menuju lapangan tengah, makin keren

Tapi.. satu yang nggak sempat Ifah kunjungi. Tempat nongkrong favorit Ifah. PERPUSTAKAAN. Aaagggh, gara-gara nunggu legalisir nggak sempat ke mana-mana selain duduk sama Tian, sampai dikira pak kepala sekolah mau daftar nikah. huek huek.. maaf!

Lapangan lagi sepi, jam masuk :)

Nggak afdol kalau kembali ke sekolah tapi nggak ketemu guru-gurunya. Yups, banyak banget guru-guru yang Ifah temui. Sempat ketemu Bu Atik (guru bahasa Indonesia) dan heboh sebentar. Bu Nurma (guru BP) yang masih anggun dan cucok. Ketemu juga Pak Ikhwan (guru biologi) yang kece dan gaul abis. Nah guru yang satu ini nih, salah satu guru yang Ifah kangen banget karena kata-kata inspiratifnya. Psstt.. di novel Ifah ada juga loh quote dari pak Ikhwan yang jadi favorit banyak anak di Madrasah.

Tadi beliau sempat bicara soal sabda Rasulullah setelah bertanya tentang pekerjaan Tian. Beliau berkisah (sambil berdiri sedangkan kami -Ifah, Tian, teman lain- duduk) tentang salah satu sabda Rasul yang berbunyi "Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan." (walaupun tadi Pak Ikhwan sempat salah, hehehe) beliau berpesan untuk tetap semangat kerja (Tian kerjanya jualan CD/DVD) karena itu adalah pintu rejeki yang diberi Allah. Walaupun nggak kuliah. Ahhh.. sebentar tapi ngena di hati :)

Ada beberapa insiden yang buat Firda kalang kabut. Di daftar Firda sudah pernah tanda tangan untuk ambil SKHU dll itu. Tapi dia nggak ngerasa ambil. Nah, nggak tahu juga tadi dia sempat pulang tapi nggak balik lagi sampai Ifah, Tian, Iffan balik (Adit sempat pulang, datang lagi dan ikut balik sama Tian). 

Di sini lah ada kejadian yang bikin Ifah senyum bahagia.

Apa, sih, yang paling disenengin seorang murid dari guru yang sudah lama nggak ketemu? Guru mengingat muridnya.
Ya, Ifah bisa katakan Ifah nggak sepopuler Firda yang dikenal satu sekolah. Tapi Ifah dikenal oleh beberapa guru yang kenal Ifah karena sering ketemu karena lomba atau aktif di pelajarannya. Saat di madrasah, karena (mungkin) dulu Ifah pernah jadi salah satu peringkat tertinggi seMadrasah di kelas 1, ikut lomba dan dikenal guru-guru mapel tertentu, beberapa murid, adik kelas dan guru-guru kenal sama Ifah.

Sebelum pulang, di area parkir Ifah sempat ribet sama Iffan dan Tian yang nitip berkas-berkasnya ke map Ifah. Di sana Ifah dengar suara seseorang yang Ifah kenallllll bangeeeettttt. Firda sempat bicarain guru ini tadi saat baru sampai. Firda ingat karena ia datang ke MAN pakai celana nggak pakai rok. (Firda nggak sempat sms Ifah sih tanya Ifah pakai rok apa celana :P) hehehe maklum, guru Ifah yang satu ini taat banget sama ajaran agama.

Siapa sih sebenarnya?

Namanya bu Lita. Beliau guru bahasa Inggris Ifah sejak kelas 1, kelas 2 nggak, dan balik ngajar Ifah lagi di kelas 3. Teman-teman pada nggak suka sama guru ini karena selalu kasih nasihat yang berlebihan. Sedikit-sedikit dosa, sedikit-sedikit nggak boleh. Ya gitu deh.. Orangnya taat banget. KAlau ngajar, siap-siap deh kita anteng dan menyimak pelajarannya. 

Selain bahasa Indonesia, Ifah seneng banget sama pelajaran bahasa Inggris. Apa-apa Ifah. Dan hampir semua guru bahasa Inggris di MAN tahu Ifah. Tapi yang paling dekat sama Ifah adalah bu Lita.

Ifah sering aktif dan dapat nilai bagus (alhamdulillah) di pelajarannya bahasa Inggris, terutama sama bu Lita. Ifah ingat, dulu Ifah sempat ikut olimpiade bahasa Inggris se bakorwil (mencakup beberapa kota) yang saat itu tuan rumahnya di MAN. Ifah jadi peserta paling kecil (kelas 1) yang ikut mewakili madrasah. Tapi.. kecil-kecil gitu peringkat Ifah tertinggi ke tiga dibandingkan kakak kelas Ifah saat itu. Sejak saat itulah, bu Lita seperti menaruh harapan besar ke Ifah. Lomba selanjtnya, olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional yang dilakukan seleksi di setiap sekolah. Olimpiade itu bayar dan Ifah nggak ikut karena pas banget nggak punya uang. Lalu apa yang terjadi.. teman, bu Lita kasih hak pilihnya ke Ifah untuk ikut olimpiade itu. Karena setiap guru bahasa Inggris di madrasah diserahi satu tiket ikut olimpiade gratis untuk murid pilihannya. Dan bu Lita pilih Ifah.

Tapi, ada juga kejadian dengan bu Lita yang nggak bisa Ifah lupain sampai sekarang. Mungkin Ifah sempat cerita juga di blog ini. Dulu kelas 1, Ifah dan beberapa teman lain kena remidi di pelajarannya bu Lita. Ini pertama kalinya Ifah dapat nilai jelek di mapel bahasa Inggris bu Lita. Beberapa teman juga. Itu adalah ulangan harian akhir yang dibuat bu Lita untuk anak kelas satu. Dan Ifah.. dapat nilai jelek. 

Remidinya, satu kelas harus mengetik sekitar 5 bab dari buku paket pegangan murid. Yang mengerjakan adalah anak-anak yang remidi. BAnyak pilihan untuk mengerjakannya, bisa kasih ke rental atau ketik sendiri. Bu Lita saat itu minta filenya. Semuanya harus sama, dari tulisan sampai gambar di buku harus sama. So, gambar harus di scan dan tulisan harus di ketik sendiri. Di kelas Ifah, anak-anak yang remidi pada lepas tangan dan nggak mau ngerjakan. Mau diserahkan rental sudah nggak ada yang mau nerima. Alhasil, Ifah yang turun tangan. Ifah nggak mau nilai Ifah kosong. Bersama Nana yang juga remidi, Ifah minta bantuan dia untuk scan gambar di buku yang jadi bab untuk ifah ketik. Kenapa Ifah yang ketik? Karena hanya Ifah yang punya komputer.

Bayangin aja, sekitar lima bab dikerjakan hanya satu hari. Ini juga kesalahan kita, mendadak. Pagi pulang sekolah (saat itu pulang pagi karena selesai ulangan semester), Nana bantuin ngetik sedikit setelah scan siap. Ifah masih pinjam notebook mas Iin karena belom punya si Arthur ini (laptop). Nana minta maaf banget nggak bisa bantu lagi karena keadaan. Awalnya memang kelihatan sedikit, karena memang banyak gambar.
Eh, tahunya.. sampai jam 9 malam baru nyampe bab 3. 

Ifah sudah nangis di depan komputer karena kecapekan (dulu komputer Ifah masih bisa). Ifah nggak makan malam. Ingat sama teman-teman lain yang remidi tapi nggak ikut ngebantuin (selain Nana). Tangis Ifah makin keras saat.. komputer Ifah hang! Mati. Nggak bisa nyala lagi.

Ifah nangis, teman. (Nyeritain ini lagi Ifah udah nyesek aja). Ifah hampir aja nyerah. Tindakan selanjutnya Ifah adalah sms bu Lita, minta maaf. Ifah kirim pesan ke bu Lita untuk minta maaf jika tugas nggak bisa dikumpulkan besok karena Ifah harus ketik  sendiri bukan ditaruh rental. Bu Lita balas beliau ingatkan Ifah kenapa nggak sejak lama diserahkan rental saja. Ifah jawab, teman-teman nggak ada yang mau urusi tugas itu. Karena Ifah takut nggak dapat nilai, Ifah dan Nana yang turun tangan. Dan malam itu, Ifah sms bu Lita bilang Ifah akan usahakan selesai besok.

Tugas selesai dengan tangis Ifah yang pecah di lewat tengah malam itu. Mungkin Ibu yang nungguin Ifah ngetik saat itu tahu kalau Ifah nangis.

Esok paginya, Ifah dan Nana yang nyerahin langsung ke bu Lita. Tatapan bu Lita itu, Ifah masih ingat jelas. Ifah cuma bilang, "maaf, ya, bu. Saya khilaf. Saya nggak maksud untuk marah." dengan mata agak sembab dan lingkar hitam di bawah mata tanda masih ngantuk. Tapi Ifah bahagia banget, Bu Lita senang dengan hasil ketikan Ifah itu. Bahkan bu Lita sempat minta ajarin buat hiasan kotak-kotak. Terus.. Ifah ajarin lah. Tugas anak kelas lain pada salah karena bukunya di scan, bukan di ketik. Ada yang sempat minta file Ifah buat dikumpulin, tapi Ifah tolak. YA IYA LAH!!


Ini yang bikin Ifah terharu sama bu Lita tadi pagi. Bu Lita masih ingat kejadian ini. Kata bu Lita, beliau sempat ceritakan usaha keras Ifah itu ke adek kelas yang ngentengin tugas kelompok. Kejadian itu dijadikan pelajaran bahwa tugas kelompok dikerjakan bersama bukan dipasrahkan satu pihak saja. 

Ifah terharu banget saat bu Lita bilang salut dengan usaha Ifah waktu itu. Yah, itu kenangan. Lama sudah nggak dikorek-korek lagi. Senang sekali bertemu bu Lita dan berbagi cerita terakhir sebelum pulang tadi. Kita sempat bicara soal buku Ifah dan beliau apresiasi banget. Terima kasih, bu. Biarlah mereka berkata apa tentang Ibu, saya tetap menghormati Ibu sebagi guru sekaligus orang tua kedua saya yang saya hormati. 

Begitulah, sekian kisah Ifah hari ini. Banyak juga, ya. Hehehe.. lumayanlah bisa ngelegain hati Ifah. 
Sampai jumpa :)

No comments:

Post a Comment