Assalamualaikum.. welcome to my blog, guys..!! ^_^

Adsense

Showing posts with label CerPen. Show all posts
Showing posts with label CerPen. Show all posts

Tuesday, March 24, 2015

Cerpen - Anglo Bapak

Hai, semua. Kali ini Ifah mau bagi satu cerpen yang Ifah buat waktu lomba peringatan bulan bahasa tahun kemarin di kampus. Baru sekarang Ifah posting di blog karena beberapa alasan. Salah satunya pengumuman pemenangnya. Karena berhubung pemenangnya sudah ketahuan alias sudah diumumkan, Ifah udah berani posting di blog, yeyy... (Coba tebak siapa juaranya, kedip-kedip mata ^_^) 
Ya, walaupun kemarin sudah Ifah posting juga di akun Kompasiana Ifah. Yang jadi teman Ifah di Kompasiana pasti sudah tahu. Untuk informasi saja tema cerpen ini baru diberitahukan saat lomba mau dimulai, yaitu Cinta dan Kekuasaan. 10 Ifah stress nggak ngelakuin apa-apa, alias bingung mau nulis cerita apa.Oh ya, Ifah mau terima kasih buat teman-teman yang sudah mendukung Ifah saat lomba tahun kemarin. Buat Aisyah, terima kasih sudah dipinjami namanya. Maaf banget kalau masih banyak typo. Ini hasil edit tahap pertama, hehehe ^_^ Semoga terhibur!

~~000~~

Thursday, November 13, 2014

Kata Sang Penjaga


“Seperti apa rasanya jadi sepertimu?” tanyaku seolah aku sendiri tak pernah melihat tingkah polahnya setiap hari. Kecuali.. saat aktifitasnya di kamar mandi. Jika pun aku mau, saat ia mandi aku bisa muncul di sampingnya tiba-tiba. Sayangnya, aku masih memiliki rasa malu dan tentunya menjaga privasi manusia yang sudah aku jaga 17 tahun ini. Kecuali satu, ia sendiri yang mau aku muncul.

Ia hanya menatapku, “kamu mau jadi sepertiku? Padahal.. aku sebenarnya mau jadi sepertimu?” jawabnya sambil menahan panas di matanya. Aku pikir kamu gila, Wina. Aku tahu kamu bukan anak TK lagi yang mengidolakan sosokku. Berkhayal memiliki sayapku untuk terbang keliling kota. 

Bukan.. tapi mengapa  kamu ingin menjadi sepertiku?
Kehadiranku ini memang untuk membantumu. Meskipun orang lain menganggapku tak ada. Menjagamu tetap nyaman dalam diam, membantumu tersenyum saat orang lain membencimu.

“Kamu salah. Aku tahu ini tak mungkin. Aku tak mungkin meminjam sayapmu untuk terbang. Aku manusia dan kamu beda, cukup khayalan masa kecil yang aku anggap ada.. Itu saja.”

Aku tahu, Wina. Tugasku di sini untuk menemanimu. Ya, maafkan aku.

Tuesday, June 03, 2014

Cupcake yang Sendirian

Selamat siang. Sebuah kisah tiba-tiba melintas dipikiran Ifah. Singkat saja.
Baca, ya!!

Suatu hari aku membayangkan, kapan ya, aku bisa membeli kue yang enak untuk dia. Aku ingin buat dia tersenyum meski hanya dengan sebuah kue. Ya, aku harus mencarinya yang spesial untuk kekasihku. Susah payah aku mendapatkannya. Orang bilang kue ini namanya cupcake. Kue dengan tampilan lucu yang dia impikan sejak lama. Kasihan, kue sekecil itu tampak begitu berharga di mata dia. Akhirnya.. dengan sisa uang makanku, aku sempatkan untuk pergi ke koto kue dekat kantor. Bermodal uang dua puluh ribu, aku beranikan masuk ke toko kue itu.

Disambut dengan sapaan hangat, si pelayan berdiri di depan etalase penuh aneka kue. Saat aku melihat satu persatu aneka kue itu, namun tidak satupun aku melihat cupcake di sana. Aku takut, usahaku untuk menyempatkan waktu singkatku ke toko itu harus berakhir dengan tangan hampa tanpa membawa apa-apa. Bagaimana dengan dia yang sudah menungguku? Apa yang harus aku katakan jika aku tak membawa yang dia mau? Kasihan, aku tak mau melihatnya menangis lagi.

Dan ternyata benar. Toko kue itu hari ini tidak memproduksi cupcake. Sial, aku harus bagaimana? Tidak ada toko kue lain yang menjual cupcake seenak toko ini. 

Pasrah saja, aku harus jujur padanya. 

"Tidak apa-apa. Aku bahagia kamu sudah berusaha mencarinya untukku. Aku hanya ingin kamu cepat ada di sini. Di samping aku. Meski kamu tidak membawa cupcake itu, percayalah.. aku tidak akan pernah sedih, aku tidak akan pernah marah. Lebih baik aku tak makan cupcake seumur hidup, daripada aku sendirian.. tanpa kamu di sisiku."

Sayang, maafkan aku.

Tuesday, December 31, 2013

Cerpen #NulisKilat - Kembang Api dan Hilang


             

Katanya, bakat orang itu ada karena turunan dari orang tuanya. Absurd banget, jadi siapa, sih, yang punya pemikiran seperti itu?  karena realita? mana, mana buktinya? 

            Aku nggak pernah tahu ada orang yang bisa sukses karena turunan dari orang tua. Ya memang, sih, ada juga yang begitu tapi kan memang dari usaha dia sendiri. Orang tua punya bakat, tapi anak nggak mau ikutin sama aja boong, dong.

            Masih saja aku debatkan permasalahan ini dengan Nana, teman sebangku-sehidup-se-mati-sendiri-sendiri. Kita ini sudah lama kenal sejak dari dalam kandungan Bunda masing-masing. Selalu kompak dalam segala hal, macam, bentuk dan rupa tapi tidak untuk urusan yang satu ini. 

            “Tapi, orang tua gue bukan Harry Potter, yang punya tongkat sihir dan bisa terbang pake sapu lidi, Na,” sensi? benar. 

            Loh, kok bawa-bawa Harry Potter segala, sih? Nah, ini masalahnya. Aku, Aprodite Hera Putria, gadis berkacamata minus 2,75 yang suka banget lihat kembang api, bisa punya urusan dengan manusia rekaan seperti Harry Potter. Nah, loh. Harry Potter yang mana, nih? 

            Jadi, sebenarnya nggak ada urusannya dengan mas Potter itu, tapi kebiasaanku yang mirip mas Potter bikin aku ngehhh sama dia. Apa lagi kalau bukan bim salabim. Yosss, aku bisa seperti Harry Potter. 

            Ini semua terjadi saat aku berumur enam tahun. Di kompleks perumahanku banyak sekali anak-anak seusiaku yang sering kesepian ditinggal orang tuanya ngantor. Maklum, kompleks perumahan elit daerah Surabaya Timur. Nggak perlu heran dan bingung menemukan fenomena banyaknya orang tua yang sibuk kerja cari duit dan nitipin anak-anak mereka ke suster-suster penjaga di rumah mereka. Namun saudara-saudara, nggak banyak dari para orang tua jetset itu yang nggak percaya sama suster rumahan dan memilih nitipin anaknya ke BPA alias Balai Penitipan Anak. Kira-kira sekitar tahun 2001, Mama dan Papaku yang notabene keduanya orang sibuk, nggak pernah sempat buat ngurusin daku yang masih unyu dan butuh kasih sayang ini harus rela dititipkan ke BPA. 

            Karena mereka berdua nggak tega meninggalkan aku sama Bi Inem-yang-bukan-pelayan-seksi di rumah sendiri, akhirnya di kirimkanlah aku ke sebuah yayasan penitipan anak yang nggak jauh dari kantor Papa. Alasannya, biar kalau Papa pulang kantor bisa langsung jemput aku. Ya nasib ya nasib.. mengapa begini..
 
            Eeitss, tapi nasib sama diderita oleh anak tante Marta, tetangga sebelah rumah.. namanya Nana. Tante Marta itu single mother yang ditinggal suaminya kawin lagi gara-gara dulu usaha kembang api mereka bangkrut. Loh, kok sekarang bisa tinggal di perumahan elit? Nah, alkisah, setelah bercerai, tante Marta yang sedang hamil Nana terseok-seok datang sendiri ke rumah sakit karena mau melahirkan. Di depan rumah sakit, tante Marta yang sudah nggak punya apa-apa ketemu Papa yang lagi binggung karena Mama mau melahirkan aku. Ya, Mama dan tante Marta lahiran bareng. 

Sunday, December 08, 2013

Skenario Teater - Aku Padamu..!! (8 pemain = 4P + 4L)


1.   EXT. LAPANGAN. BAWAH POHON. SORE.
Cast : Letnan Thomas, Prajurit Budi, Prajurit Yanto
            Lapangan Asrama Sekolah Tentara Rakyat dipenuhi oleh prajurit-prajurit yang sedang berlatih. Mereka dibentuk beberapa kelompok yang dipimpin ileh seorang letnan di setiap kelompaknya. Namun, di saat latihan sedang berlangsung, Letnan Thomas kebingungan melihat anggota kelompoknya berkurang dua. Dan akhirnya ia pun mencari hingga ke pinggir lapangan.

(SHOOT 1)
Letnan Thomas           : “Di mana prajurit-prajurit ini. Nakal-nakal sekali mereka. Waktunya  latihan malah keluyuran,” (berkacak pinggang)

(SHOOT 2)
Prajurit Budi                : “Panas, yak. Mau hujan, nih,” (mengkibas-kibas tangan)
Prajurit Yanto             : “Ho’oh, panas banget. Pengen yang seger-seger, nih,”
Prajurit Budi                            : (menjentikkan jari) “Aku tahu..!! kita ke warung, yuk. Di sana segernya   berlipat,”
Prajurit Yanto             : “Wah bener juga. Di sana ada mbak-mbak cantik, kan?”

Tiba-tiba Letnan Thomas datang sambil berkacak pinggang marah.

Letnan Thomas           : “Mbak-mbak cantik hidungmu..!!”
P. Budi & Yanto         : “Aa.. anu.. Letnan.. anu..,” (saling bersahutan)
Letnan Thomas      : “Anu.. anu.. anunya apa? Kalian ini..,” (menunjuk hidung prajurit) “Waktunya latihan malah asik ngadem di sini,”
Prajurit Budi               : “Nggak usah pake tunjuk hidung kali, Letnan,”
Prajurit Yanto                : “Iya, mentang-menatang punya hidung mancung,”
Letnan Thomas           : “Emang iya, masalah buat loe...? Eh, nggak perlu alih pembicaraan. Jawab pertanyaan saya. Ngapain kalian di sini?”
Prajurit Yanto              : “Ngadem, Letnan,”
Prajurit Budi               : “Dan kami butuh kesegaran,” (merentangkan tangan)
Letnan Thomas           : “Terus, rencana kalian mau apa?
(Diam)

Sunday, December 01, 2013

Cerpen Remaja: Satu Cm


Lima koma tiga cm  jarak tangan kiri Lara dan tangan kanan Adrian saat ini, udara yang jadi penengah. Langit tidak mendung, suasana mendukung.
“Ra, ka-kamu lihat bintang itu nggak?” tanya Adrian dengan suara goyang patah-patah.
“Ya.. yang ma-mana, Dri? bintang, kan, banyak,”
Demi abang becak yang kencing sembarangan, Lara nggak mau tahu bagaimana wajahnya sekarang. Sebagai reporter, Lara sudah sering ngobrol bareng dengan pejabat  negara sekalipun. Sebuah seminar  untuk mengasah keberanian di muka publik saja sempat menobatkan Lara sebagai peserta muka badak. Alias nggak punya malu. Namun, semuanya sia-sia sejak Adrian.. mulai duduk di sisinya.
“Yang itu.. yang ada tepat di atas kita. Bintang paling terang yang sekarang.. jadi saksi kita duduk pertama kalinya di taman ini..,” Adrian yang sedari tadi menengadah memalingkan pandangannya dan menatap Lara dalam-dalam, “bersama,”
DEG. Sepeti ada bakso bulat jalan-jalan di tenggorokan Lara. 
“Em. Dri, aku nggak nyangka kita akhirnya bisa bersama,” 
“Iya, terima kasih, ya, kamu sudah terima saat aku tembak tadi siang,” sungguh Adrian pria yang lugu.
“Hm, ya. Tapi sekali-kali jangan pas liputan demo, ya. Bukannya jadian, kitanya malah masuk UGD bareng,” badannya bergetar menahan tawa.
“Yang penting. Kita sekarang, sudah bersama,” lima koma tiga cm sekarang jadi satu cm.[]

Cerita tersingkat dan tercepat yang pernah Ifah buat. Happy reading..!! ^^

Tuesday, November 12, 2013

Cerpen Spesial Hari Ayah - Obat Demam, Segelas Air dan Roti Isi

Ini bukan masalah pergi atau bahkan ditinggalkan. Rasanya inilah yang mungkin terasa sangat berat bagi Ayah. Lari pontang-panting hanya mencari segelas air untukku. "Percaya, Ri, Ayah akan kembali lagi bawa obatnya," itu kata Ayah sebelum ia kembali berlari mencari segelas air yang sangat aku butuhkan. Pasti sulit menelan pil demam murahan yang pahitnya menghilangkan semua selera makanku itu. 

 Inilah sulitnya hidup di pinggiran kota sebagai masyarakat miskin. Kami cukup puas hidup berdua di sebuah rumah petak yang dikontrakkan seorang wanita tua keturunan Cina. Tidak ada anggota keluarga lain. Cukup ada aku dan Ayahku. Ibu sudah lama meninggal bersama kobaran api yang serta merta merenggut semuanya. Rumah, barang-barang berharga hingga nyawa Ibu juga ikut habis. Dengan spesial Tuhan memberiku kehidupan baru yang jauh lebih menyedihkan bersama Ayah.

Sunday, November 10, 2013

Cerpen Spesial Hari Pahlawan - Lencana Sebelah Kiri

Lima kali reject lima kali tanpa jawaban membuatku lelah juga. Sejak tadi Ayah tak kunjung meneleponku kembali jika tahu aku menghubunginya bisa jadi karena masalah penting. Dasar orang penting, hari Sabtu begini Ayah masih saja sibuk dengan urusan kantornya. Pentingnya jadi bos, ya, begini. Jadwal bisa ia ubah sesuka hatinya. Bahkan, waktu libur keluarga pun bisa dibuat Ayah jadi hari-hari sibuk ngantor. 
 
“Hallo,” setelah sekian lama mencoba, akhirnya muncul juga suara bass Ayah. Dengan tergagap kaget, aku mengulang katanya tadi, “hallo, Yah. Ayah, kok ng..,”
“Ayah tadi sibuk, nak. Ayah lagi bareng sama rekan-rekan kantor Ayah..,” 
Inilah hobby Ayah. Seringnya melakukan debat dan rapat, Ayah tumbuh dengan alur serba cepat. Kebiasaan memotong argument seseorang sudah khatam ia kuasai. Memang benar, itu kebiasaan buruk. Namun itulah Ayahku. Tidak pernah mau tahu lawan bicaranya sakit hati atau tidak. “Ayah dengerin aku dulu, Yah. Ini penting banget,” kataku mencoba memberi keyakinan ini masalah penting. Sekali. 

Tuesday, October 29, 2013

Cerpen Spesial Sumpah Pemuda - Aku?

Indonesia ada karena masyarakatnya. Hasil perjuangan para pahlawan terdahulu untuk membela tanah air mereka. Lantas aku bertanya, "untuk siapa mereka berjuang, Kek?" kataku sambil menatap Kakek takzim. Ceritanya sungguh menggugah semangatku pagi ini. Kata Kakek, dulu istilah Tamtama.. Bintara.. kadang nggak dibutuhin. Jabatan apapun asalkan berani turun medan, dia akan jadi pahlawan. Pahlawan di negaranya sendiri. "Ya, untuk kamu," tunjuk Kakek tepat di hidungku. 

"Aku?" 

Kakek mengangguk, "hem, negara ini untuk kamu dan teman-teman kamu. Pemuda penerus bangsa," katanya sambil tersenyum. Kata Kakek, para pejuang dulu ingin mersakan memiliki negaranya sendiri. Merdeka dari penjajah. Berdiri tenang di negaranya sendiri. Sekarang dan untuk anak cucu mereka nanti.

Kata Kakek, dulu nggak peduli tinggi badan 165cm atau lebih untuk jadi prajurit pembela negara, yang penting punya keyakinan tinggi untuk membela tanah air bebas dari segala macam jajahan. Aku bingung, "kenapa nggak minta bantuan saja, sih, kan nggak mudah?" ku sandarkan punggugku lebih mendekat ke rengkuhan Kakek. "Ini bukan perkarang mudah atau tidaknya. Ini menyangkut hargadiri bangsa. Bangsa kamu,"

"Aku?" 

Dan kata Kakek, kalau bicara soal berjuang, dulu nggak pernah mandang umur. Yang tua dan yang muda terserah, mau ikut berjuang atau tidak. Pokoknya.. meski umur lewat yang penting negara selamat. "Walaupun masih muda?" kataku dengan polos. Bukannya menjawab, Kakek lantas berdiri tegap, seperti menemukan citranya terdahulu yang sempat hilang, "kamu!!" 

Sunday, October 13, 2013

Cerpen Spesial Idul Adha - Sepuluh


Masih saja ia pandangi tulisan di layar telepon genggamnya itu. Batinnya galau.
            Ibu masih ngotot berkurban, Mbak. Tapi uang sudah habis semua untuk beli obat Ibu. Begitulah rangkaian kata yang dikirimkan Surya melalui pesan singkat tadi pagi. Terbayang jelas wajah sang Ibu, dengan penampilannya yang lemah di atas kursi roda. Sebelah anggota badannya layu karena strok sejak lima tahun yang lalu. Rasanya, baru kemarin Suri mendapatkan pesan dengan topik yang sama dari Surya. Tentang kurban.
            Suri mengira, sikap Ibunya yang selalu meminta hal-hal aneh itu hanyalah efek dari penyakit stroknya. Mungkin syaraf Ibu sedang terganggu lagi, itu yang sering Suri katakan setiap membaca pesan Surya. Namun, kali ini permintaan Ibu tidak berubah. Terhitung dari pesan yang ia terima sejak tiga hari lalu. Inti pesan itu semua sama. Ibu ingin ikut berkurban tahun ini.
            Tidak. Surya tidak mungkin mengada-ada jika menyangkut tentang Ibu. Kembali benda mengkilat di tangannya bergetar. Satu pesan baru. Ibu pingsan. Cepat pulang, Mbak! Bayangan wanita tua sedang tergeletak tak berdaya sekelebat menghantui pandangannya.
            “Saya minta ijin waktu pulang sekarang, Pak. Ibu saya sakit,” dalam deru suara seratus lebih mesin jahit yang bekerja bersamaan, Suri meminta kesediaan sang manager konfeksi untuk membolehkannya pulang lebih awal. Hanya dengan sekali anggukan, Suri akhirnya bergegas berlari keluar dari pabrik. Langkahnya sedikit berat. Berat karena memikirkan, bagaimana Ibu sekarang? Benarkah yang ia minta itu? Berguraukah? Apa hanya sekedar halusinasi? Saat itu yang Suri yakini.. Ibunya sedang membutuhkannya. Segera.

Thursday, April 25, 2013

Cerpen Spesial Hari Kartini: Saat Ibu Menjadi Kartini



                Saat Tuhan memanggil kita, akan terasa jauh lebih siap jika bisa mewujudkan pengharapan terakhir sebelum benar-benar pergi. Seperti aku.. dan Ibuku.
                Namanya Karti, lengkapnya Kartini Nurjanah. Ia adalah Ibuku. Seorang Wonder Women terhebat di seluruh dunia. Bukan rekaan ataupun akting sekalipun. Ia milikku.
                Kami hidup berdua di sebuah kontarakan kecil dekat pangkalan angkot milik seorang pengusaha kaya keturunan Cina. Ini dikarenakan ibuku kerja di sana. Bukan sebagai pedagang minuman untuk para supir angkot kebanyakan, tapi Ibukulah supir angkot itu.
                Ibuku memang hebat. Bekerja sebagai supir memamang bukan pilihannya. Ibuku hanya meneruskan pekerjaan Bapak yang meninggal tiga tahun lalu. Tujuh hari sepeninggal Bapak, kami pindah kontrakan. Alasannya karena jarak yang lebih dekat dengan pangkalan angkot. Ibu bisa leluasa menjagaku di rumah jika ada apa-apa. Setiap Ibu pergi kerja, ia selalu mewanti-wanti aku untuk tidak keluar rumah. Ibu takut dengan kondisiku yang sering turun tiap kali kelelahan.

Monday, October 01, 2012

Ikhlas kau Kurban



Pukul 12.30, Mizan bergegas lari menuju sopir pribadinya yang datang menjemputnya ke madrasah. Bukan karena panas atau lelah tapi ia ingin segera menelepon sang ayah. Tat tit tut… bunyi jempol kanannya yang lihay menari menekan tombol-tombol handphone QWERTY  keluaran terbaru itu. Dan muncullah beberapa kombinasi angka di layar monitor cukup lebarnya.
“Assalamualaikum, ayah. Selamat siang..”

Wednesday, September 12, 2012

Lima Mata di Beringin Tuban



(Sebenarnya ini sempat ingin aku kirim ke media cetak, tapi ngak jadi. Publis di sini dulu,ya. Selamat membaca..) 
 
Aku putuskan untuk beristirahan di bawah beringin setelah lelah berlari mengitari alon-alon Tuban sebanyak dua kali. Aku duduk disebuah bangku. Tiba-tiba aku merasakan rongga dadaku lebih luas daripada alon-alon ini. Dan sebuah wajah tergambar jelas hadir di mataku. Aku rasa waktu itu adalah saat terakhirku bersamanya. Harlan masih menatapku, terlihat jelas sepasang bola mata yang indah di balik kacamata minus yang ia kenakan. Perlahan, sebutir air mata jatuh. Satu. Satu saja. Karena ia pernah berjanji.

Kamu Juaranya



Seorang pria masih saja diam di depan ruangan berdinding hijau muda rumput. Bukan ruangan biasa, tepatnya ruang itu bisa disebut sebagai  kamar. Kamar yang sempat dihuni oleh seorang laki-laki, katanya. Ia menyebut kamar itu dihuni oleh seorang laki-laki, karena memang si penghuni belum sempat menjadi pria.

Kerudung Merah



Entah apa yang sedang disembunyikan oleh om Luqman dari ku. Kain merah ini, em.. atau aku sebut kerudung saja menjadi begitu misterius dan menyimpan rahasia tiap kali ku tanyakan kepada Om Luqman.
“Sudahlah, buang saja kain itu” perintah om Luqman saat ku tanyakan perihal kain yang sempat aku temukan di meja kerjanya.

Thursday, August 30, 2012

Seperti Manisnya Strawberry




Hidup itu seperti layaknya buah strowberi, asam.. manis. Ya, itu rasanya. Paham itu diyakini oleh Ranishia, cewek cuek yang begitu menggemari buah strowberi. Strowberi, identik dengan gadis-gadis cantik nan feminim. Tapi itu jadi tak berlaku jika melihat Ranishia yang memiliki sifat tomboi layaknya anak laki-laki.

Wednesday, August 01, 2012

Cerber: Kepada Mata Itu, Bag. 3


 Setiap pagi aku selalu bersepeda di kawasan itu, tempat pertama kalinya aku berjumpa dengan Cinta. Tapi, berkali-kali aku melewati jalan itu, tidak ku temukan keberadaan Cinta di sana.
hari demi hari terus aku lalui denagn pencarian Cintaku,

Cerber: Kepada Mata Itu, Bag. 2

Setelah sepedaku kembali baik, aku segera bangkit dari tempat dudukku. Aku keluarkan selembar uang lima ribu rupiah dan aku serahkan ke penyelamat ban sepedaku itu.
“Ambil saja kembaliannya, pak”
“Wah, terima kasih, mas” jawab sang bapak.

Cerber: Kepada Mata Itu, Bag. 1


Mimpi apa aku semalam, ban sepeda bocor tepat di jalan yang super duper rame ini. Selama aku jalani hobby goes ku yang baru dua bulan rutin aku jalani, baru kali ini ban sepedaku tiba-tiba minta pension.
“Ngomonglah, kalo kamu udah capek. Kan aku bisa ganti kamu sama ban yang baru,” gilanya aku memaki ban yang jelas-jelas benda mati. Ya, mungkin ini efek dari ke-labilan pikirannku akibat ban standart depan sepedaku yang udah almarhum ini.
“Di sana ada tambal ban, mas..”

Friday, July 27, 2012

Cerber: Ketika Kakiku Menginjak Langit Bag. 2

Bagian 2: Suatu Saat Nanti

Setelah perjalanan selama kurang lebih lima jam dari Semarang, akhirnya aku menginjakkan kakiku di tanah Jogja. Udara di sini terasa beda sekali. Tidak seperti di Semarang yang sudah seperti Jakarta yang sering aku lihat di TV selalu macet tiap harinya.
Aku berdiri di depan pekarangan luas dengan hamparan taman bunga di sekitar bagunan modern dengan sedikit aksen kuno di sekitar pintu dan jendela. Sebuah rumah minimalis begitu tampak indah ku pandang. Tak besar, pas untuk keluarga kami yang hanya empat orang (tambah mbak Ajeng, ya satu). Jika di lihat, villa kami terletak lumayan jauh dari pemukiman warga sekitar. Tapi jangan salah, villa kami sudah sangat di kenal orang di sekitar sini. Karena ayah sering memberikan bantuan untuk para warga yang sering menjaga villa kami jika ayah tidak ada.