Assalamualaikum.. welcome to my blog, guys..!! ^_^

Adsense

Showing posts with label CurhatanKu. Show all posts
Showing posts with label CurhatanKu. Show all posts

Saturday, October 05, 2024

Pengalaman Operasi Impaksi/Cabut Gigi BPJS (Tanpa Opname)

Hai, everyone!
Lupa banget buat nulis pengalaman satu ini soalnya kalau yang namanya sakit terus udah sembuh jadi lupa soal sakitnya. Ang ang ang... Bercanda.

Ya udahlah, jadi begini. Aku memang ada sakit di gigi graham kiri bawah. Dia lubang gitu dan belum pernah kena tindakan. Nah, makin lama makin gede. Udah lumayan lama. Akhirnya karena udah ganggu banget, aku putusin buat diberi tindakan. Dokter gigi di klinik FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) BPJSku bilang kalau harus dioperasi di RSUD.

Bagi kalian yang mau operasi juga, mari merapat. Aku kasih tahu pengalaman aku waktu cabut satu gigi graham aku yang nggak pake opname. GRATIS pakai BPJS dan aman. Akan aku jelaskan juga proses dan prosedurnya dari awal sampai akhir nggak ngerasa sakit lagi supaya kalian bisa lihat berapa lama estimasi proses pengurusan awal sampai dinyatakan benar-benar sehat.

Disclaimer dulu kalau ini murni pengalaman aku di kabupaten Tuban. Perbedaan prosedur dan lama pengobatan juga berpengaruh sesuai kondisi tubuh dan rumah sakit. So, pasnag sabuk pengaman dan nikmati cerita saya yang mungkin agak panjang ini.

1. Minta Rujukan di FKTP (5 Juli 2024)

Satu-satunya cara kalau kalian adalah pengguna BPJS ya harus ngurus surat rujukan. Misal FKTP kalian cuma di dokter praktek biasa atau sejenis klinik pratama ini wajib. Karena tindakan cabut gigi begini udah termasuk bedah kecil, ya. Kudu sama dokter bedah mulut dan butuh fasilitas yang mumpuni. 

Untuk kasusku, aku FKTP di klinik yang memang ada klinik giginya (FKTP aku di Klinik Abyudaya Medika Tuban). Dokter gigi aku bikin surat rujukan untuk ditujukan ke dokter bedah mulut di RSUD (RSUD dr. Koeasma Tuban) karena katanya memang dokternya ada di sana dan fasilitasnya sudah mendukung. So, aku manut dan jadilah surat rujukannya.

Wednesday, July 24, 2019

Pengalaman (Pertama Kali) ke Puskesmas buat Periksa Gigi

Assalamualaikum...

Hai, semua. Apa kabar? Barangkali ada yang lagi sakit kayak saya? Huhuhu... Sakitnya sih masih kelihatan cetar gitu. Mata melek lebar, wajah berseri, tenaga lumayan, tapi gigi cenat-cenut, parahh. Jadi, gigi aku ada masalah, gais...

Uhhh... Berlubang gitu. Padahal dulu kecil. Tapi lama-lama lubangnya gede banget di gigi graham bawah bagian kiri aku. Tiap malem ditangisi gegara sakit. Karena saking nggak kuatnya, larilah ke puskesmas buat diobatin. Yuhu.. kali ini aku mau berbagi cerita masalah awal kali ke puskesmas buat periksa, khususnya gigi.

Pengalaman pertama kali ke puskesmas? Nggak juga, sih. Jaman masih bocah dulu ya apa-apa ke puskesmas. Udah gedean aja kalau sakit larinya ke dokter spesialis langsung (sok wow), enggak ke puskesmas. Nah, berhubung di (usia) dewasa ini aku ada keluhan gigi berlubang dan badget sedang low-lownya, pilihan dari beberapa bude aku saranin kalau ke puskesmas saja.

Katanya dulu gratis.. Kan lumayan, dong. Sekalipun bayar biasanya murah sekali.

But, aku nggak langsung bahagia gitu saja dengar gratisan. Buat memastikan aku coba browsing seharian buat cari tahu periksa di puskesmas itu macam bagaimana. Dan, beberapa tulisan sobat-sobat blogger lain soal pengalaman mereka ke puskesmas khususnya periksa gigi sangat membantu sekali. Alhasil, sudah tahulah gambarannya bagaimana, alur-alurnya, sampai tarif yang sekiranya didapat waktu kita periksa gigi.

Daripada bingung, langsung dah cus ke puskesmas, bareng bude sama Ibuk. Dari rumah bawa fotokopi KTP (print-printan sih, ngeprint sendiri di rumah dari KTP yg aku scan. Dan fotokopi KTP emang udah selalu ready di dompet), sama jaga-jaga selembar fotokopi KK yang masih kesimpen di tas waktu dulu ngurus upgrade kartu sim di Grapari Telkomsel.

Niatnya ajak bude karena udah pengalaman ke puskesmas bolak-balik, ya. Tapi tetep aja belibet, maklum udah berusia juga. Beliau yang udah punya kartu sehat enak aja gitu buat ikutan periksa.

Sementara aku???????????


Baiklah, aku akan bahas dari segi diriku aja yang newbie masuk puskesmas di masa milenial ini. Btw, aku periksa di puskesmas Kebonsari Tuban, Jatim, ya.


Tuesday, July 02, 2019

Tes Tulis, Microteaching, dan Serba-serbi Awal Jadi Tutor Primagama

Di depan Primagama
Hi, semua!

Postingan kali ini ibaratnya menyelam sambil minum air. Aku cuma mau sekadar curhat aja, ya. Tapi menurutku, tulisan aku kali ini bisa jadi bahan pembelajaran dan persiapan untuk kalian yang mau atau bahkan sudah apply posisi tutor di salah satu bimbingan belajar lagend di Indonesia.

Yups, si biru Primagama.

Jadi, ceritanya aku masih dalam masa-masa mencari kerja selepas menambahi namaku sama gelar sarjana. Karena basic dari pendidikan, pilihannya bakal nggak jauh sama yang namanya mengajar dan jadi guru. November 2018 setelah wisuda, aku coba masukkan berkas lamaran tutor ke Primagama setelah dapat info loker dari media.

Sebenarnya, agak hopeless mengingat ada sempat kata-kata temen yang buat drop soal ngelamar kerjaan di bimbel gede. Apalagi dengan latar belakang lulusan yang bisa jadi dilihat sebagai faktor pendukung untuk diterima. Uhh, parah nggak sih. segede-gedenya IPK kalau lulusan univ swasta perlu ada warning. Tapi ahh nggak ada salahnya mencoba, buat jadi pengalaman dan.. bahan nulis di blog. Jiahhh...

Oke oke.. ini pointnya. Aku bakal mengulas bagaimana tahapan yang akan kalian temui sebelum menjadi tutor khususnya di Primagama. Oh, ya.. yang mau aku ceritakan ini adalah pengalamanku kemarin ya dan untuk informasi, aku coba ambil posisi tutor mapel Bahasa Indonesia.

Tuesday, November 13, 2018

Aktivasi Merdeka bersama Nutrive Benecol dan Indomaret: Nulis Testimoni Menang Hape "Sultan" :)

Pojokan kanan bawah :)
Assalamualaikum, everyone!

Hey ya.. aku balik lagi dengan satu pengalaman luar biasa yang sudah aku tahan lama banget selama berbulan-bulan. Nahannya pengen langsung share tapi.. cari tahu yang tepat. Apa itu?

Seperti yang aku tulis di judul, ini sebenarnya adalah masalah ikutan lomba (atau bisa disebut kuis) yang mempertaruhkan kekuatan kata-kata dan ke-bejo-an. Tapi, kali ini beda dari biasanya yang selalu berhubungan dengan lomba cerpen di postingan-postingan sebelumnya. Bukan, ya. Sudah aku sebut tadi di judul, ini adalah masalah nulis testimoni.

Yups!

Lebih singkat dari cerpen. Lah, kok bisa?

Jadi, pada sekitar bulan Agustus, Nutrive Benecol, salah satu minuman kesehatan yang diperuntukkan untuk menjaga kadar kolesterol, tiba-tiba adain satu event besar. Produk dari Kalbe ini kerja sama dengan Indomaret yang kasih i-kupon (sejenis rangkaian kode) kalau beli Nutrive Benecol rasa apa saja sebanyak 2 botol.

Nah, beberapa hari setelah lomba Peksimida, uang saku dari ikutan lomba itu masih ada. Kebiasaan, kalau ada uang lebih suka mampir Indomaret buat beli susu kotak atau cemilan macam keripik kentang. 27 Agustus 2018, sama Ibu setelah dari pasar kita sempatin mampir ke sana. Jarak pasar ke Indomaret deket soalnya.

Awal mampir cuma mau beli keripik kentang, tepung mix buat kue, sama susu kotak. Maklum, tanggal itu adalah satu hari sebelum aku ulang tahun. Mau buat kue sendiri ceritanya. Pas mampir ke lemari es mau ambil susu,  si Ibu aku nengok ke bagian Nutrive Benecol.

"Beliin dong, dek!" kata Ibu.

Friday, October 12, 2018

Yang Perlu Dipersiapkan Jika Ikut Lomba ke Luar Kota/Daerah Lain

Hai, semua!
Assalamualaikum!

Ini adalah tulisan random yang tiba-tiba saja kepikiran. Siang ini ada teman yang bakal ikutan lomba ke luar daerah sempat ngechat masalah barang bawaan. Sekiranya bisa membantu, aku ada beberapa saran soal apa, sih, yang kudu dipersiapkan saat akan keluar daerahmu untuk ikut sebuah kompetisi.

Sebenarnya memang belum banyak pengalaman untuk masalah ini. Tapi, paling enggak modal beberapa kali ikutan lomba yang membutuhkan waktu cukup lama di luar tempat kita tinggal, bisa membantu kalian yang bingung mau bawa apa dan mempersiapkan apa saja. Perlu aku garis bawahi kalau tips ini bisa dipakai untuk kalian yang akan bepergian dalam rangka ikutan lomba.

Nah, biasanya yang tingkatnya agak tinggi, kompetisi diadakan di suatu tempat dengan jangka waktu tertentu. Ya, karena banyaknya lomba yang akan diadakan berimbas pada semua orang yang kudu stay di sana sampai rangkaian acara selesai. Kira-kira yang sempat aku ikuti, lomba-lomba macam ini paling tidak berjalan selama satu minggu. Bisa kurang bisa juga lebih. Untuk itu, selama kurun waktu itu, kalian perlu memperhatikan apa saja yang dibutuhkan selama mengikuti kegiatan itu.

Ingat, ini bukan mau pergi kuliah ke luar kota yang bakal stay lama banget ala orang pindahan. Hanya sementara waktu kalian tinggal di sana, somewhere kalian akan berjuang untuk sebuah event. Bisa juga dibilang posisi kalian adalah semi-pindahan. Begitulah..

Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui dulu sebelum mempersiapkan semuanya.

Lomba di mana (Tempat)
Point pertama ini penting untuk dijadikan patokan awal tindakan selanjutnya. Kalian akan lomba di mana? Perlu sekali mengetahui iklmi dan kondisi alam di tempat kalian nanti. Di sana kalian bukan mau jalan-jalan. Kalian akan berkompetisi. Mengetahui medan adalah modal para superhero melakukan serangan. Apakah tempatnya punya iklim dingin, kering, panas, sejuk? Kalian bisa persiapkan pakaian yang sesuai dengan kebutuhan sesuai kondisi alam di sana seperti jaket.

Waktu
Nah, kalau sudah tahu kalian akan kemana, kali ini perlu dibutuhkan perhitungan kebutuhan selama hidup di sana. Cukup tidaknya untuk hidup seminggu? Sebulan? Kita akan bahas nanti.

Baiklah, setelah kedua hal ini paham. Mari kita bahas, sekiranya barang apa saja yang bisa dan arus kita bawa.


Sunday, September 09, 2018

Diary PEKSIMIDA XIV Jatim (Again) 2018 : Ikutan Lagi dengan Mental Kecebong

Hai, semua!
Assalamualaikum Wr. Wb.

Foto bersama sebelum lomba dimulai
Nulis ini hanya untuk meluapkan sesuatu yang pernah aku coba lakukan sebelumnya. Bahkan, kalau dilihat-lihat, blog ini lama kelamaan lebih banyak isi curhatan soal kegiatan lomba. Whats! Kalau misal nggak penting, bisa skip dan baca postingan konten lain yang pernah aku buat di blog ini. Dan bagi yang masih penasaran bakal ada cerita apa, mari baca kisah aku ini, yes... huahahaha.. :)

Baiklah, seperti judul di atas, 'again' karena memang sebelumnya sudah pernah ikutan yang seperti ini. PEKSIMIDA atau Pekan Seni Mahasiswa Daerah adalah seleksi provinsi untuk cari duta terbaik mahasiswa yang bakal mewakili provinsinya di PEKSIMINAS atau Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Ajang seni tertinggi bagi mahasiswa di Indonesia ini dibuat per 2 tahunan. Yang artinya tahun 2016 pernah terselenggara dan aku ikut di dalamnya.

Nggak percaya? Mundur ke beberapa postingan aku sebelumnya, deh! Baca dulu.. ^_^

Nah, anggap saja kalian sudah tahu kalau aku ternyata sudah pernah ikutan di PEKSIMINAS XIII tahun 2016 tangkai seni penulisan cerpen di Kendari mewakili provinsi Jatim. Nah, lalu apa hubungannya dengan postingan ini? Ya... karena.. even itu bakal ada lagi tahun 2018 (ini) dan.. aku ikut bikin rusuh. Tapi nggak ikutan lebih.. Waks!

Thursday, May 04, 2017

Diary PORSENASMA PGRI III 2017 Palembang (Part 1) : Second Chances?

Hi, everyone!

Rapat kontingen
Assalamualaikum... Tahun 2017 akhirnya datang dengan postingan pertama soal DIARY (lagi). Terlambat banget! --masa bodo! Haha.. kadang merasa aneh kalau blog aku mulai sejak... I don't know--isinya malah keseringan curhat. Ups.. mungkin akan aku luruskan di postingan kali ini, bahwa aku akan berusaha untuk membuat curhatan aku ini sebagai bahan pembelajaran bagi siapapun. Siapapun itu. Terutama aku sendiri sebagai pemilik dan pelaku dalam kisah ini.

Seperti yang sering aku jadikan patokan tiap nulis apapun. Sefiksi atau nonfiksinya tulisan, haruslah ada yang namanya nilai pembelajaran di dalamnya (?). Sekalipun kali ini aku akan bahas lewat cerita sebuah perjalanan hidup --maaf terlalu lebay.

Oke, masih sama dengan diary-diary sebelumnya yang sudah pernah aku post, kali ini akan kembali mengulas perjalanan aku di sebuah kompetisi yang berjalan beberapa hari sebelum aku tulis postingan ini. Sebagaimana judulnya pasti sudah jelas. Nama evennya adalah PORSENASMA PGRI III yang diadakan di Palembang. Sejak terhitung tanggal 24 sampai 30 April--lebih dikit nggak masalahlah, ya. Masa-masa perang telah terjadi. :)

Berkisar tanggal itu, artinya tulisan ini aku kerjakan dengan keadaan masih seperempat badan melayang nggak jelas (kejadian pagi tadi--waktu beli es krim badan lemes sampai nabrak-nabrak). Jadi belum stabil untuk ukuran ketahanan tubuh aku. So, misal tulisan ini sedikit ngawur mohon dimaklumi. Dan.. mohon maaf juga misal nggak banyak foto atau dokumentasi apapun yang aku munculkan di sini. Serba dadakan. Mumpung lagi mood buka blog.

Mantap! Aku akan mulai sekarang.

Namanya adalah PORSENASMA PGRI atau kalau mau tahu kepanjangannya adalah Pekan Olahraga dan Seni Nasional Mahasiswa PGRI yang kali ini sudah masuk di perhelatan ke tiga. Kalau nggak salah, acara ini ada tiap tiga tahunan sekali. Nah, kebetulan tahun ini aku dapat kesempatan untuk ikut dalam kontingan kampus.

Hem, masih ada yang tanya tangkai lomba apa yang aku ikuti? Jawabannya masih sama seperti sebelum-sebelumnya.

Penulisan cerpen.

PORSENASMA pertama dulu diadakan di Surabaya, lalu tahun 2014 even ke dua ada di Semarang, dan tahun ini yang jadi tuan rumah adalah Palembang. Lohh, coba deh bayangkan.. Palembang! Alamat harus keluar Jawa lagi, kan? Kebayang bagaimana masalah tahun lalu pernah punya yang namanya pengalaman yang nggak enak di pulau orang. Dan sekarang harus kembali mengulang itu lagi. Untuk kedua kalinya.

Aku akan bahas lebih detail nanti. Kita akan mulai dengan bagaimana awal terbentuknya kontingan kampus aku. UNIROW Tuban.

Proses pemilihan calon peserta dari kontigen kampus aku dimulai jauh bahkan sebelum aku berangkat ke Kendari untuk PEKSIMINAS. Bahkan beberapa jadwal harus sering dirombak untuk masalah seleksi ini dan itu. Secara garis besar, peserta PORSENASMA ini datang dari mereka yang belum pernah menjuarai kompetisi yang sama di tingkat nasional. Kalau misal pernah ikut--sebut saja lomba nyanyi tingkat nasional--lalu menang atara juara 1, 2, atau 3, kalian nggak akan mungkin dibolehkan untuk ikut. Nah, ini kejadian sama aku.

Wednesday, December 28, 2016

Diary PEKSIMINAS XIII 2016 Kendari (Part 3-end) : Will You Catch Me If I Fall?

Di Pulau Bokori
Sampailah di part terakhir untuk Diary kali ini.

Hitungannya, Kamis tanggal 13 Oktober adalah hunting data, kita waktu itu positif keliling Kendari dari pagi sampai malam. Jumatnya, hari tempur. Menurut pembina BPSMI, tangkai lomba penulisan adalah tangkai lomba paling membosankan sepanjang sejarah. Bayangkan, siapa juga yang mau nonton orang nulis. Duduk doang, dipanggil? iya kalau mau noleh, 8 jam duduk hadap laptop. Mau apa? Tepekur dengan imaji masing-masing.

Subuh sebelum siap-siap lomba
Jumat pagi siap dengan seragam lomba. Setelah subuh, aku sempat telepon Ibu minta doa. Hari itu nggak tenang banget! Setelah sarapan tangkai penulisan dan tangkai lain seperti keroncong ikut berangkat. Satu momen yang penuh emosi adalah saat tiap peserta akan berangkat lomba, kontingen Jatim punya semacam 'ritual' sakral tanpa klenik yang akan dilakukan tepat di depan pintu masuk hotel.
Peserta yang akan lomba hari itu akan berdiri di tengah, melingkar kalau lebih dari satu orang. Kemudian ada satu pemimpin doa dari pihak BPSMI atau pihak lain yang mau berdoa untuk kami, berdiri di antara kami yang lomba. Sementara teman-teman lain yang tidak ikut lomba hari itu diminta bergandengan mengelilingi kami. Melingkar seperti pagar menjaga kami. Menunduk bersama dan.. we pray together.

Dada sesek banget tiap ada yang akan lomba. Emosinya ngumpul sampai ke ubun-ubun sampai sorakan yel-yel kami mengantar menuju mobil.
Di masing-masing ruang lomba, kami cuma dijaga pembina. Itupun di luar. Aku sendirian masuk, awalnya ditemani pak Antok. Dititipi beberapa amunis (baca makanan) dan pesan. Sebelum mulai, aku sempatin ngaji. Apapun agama kalian, ini juga penting, teman. Di titik ini waktunya untuk berserah dan menjalankan apa yang harus kita kerjakan. Modalnya aku waktu itu cuma Quran portabel di laptop soalnya nggak bawa mushaf kecil.

Diary PEKSIMINAS XIII2016 Kendari (Part 2) : Masih Bebas Ngomong Jawa di Sulawesi



Hey hey!

Asalamualaikum... Balik lagi dengan Part 2.

Sebelumnya aku sudah cerita bagaimana rempongnya mau berangkat di Part 1 . Kali ini, aku mau ceritakan akhirnya.. aku sampai juga di tanah luar Jawa. Alhamdulillah ya Allah, selamat sampai tujuan. walaupun sempat takut gara-gara perjalanan Surabaya ke Makassar sedikit gangguan cuaca. Turbulensi beberapa menit lumayan kerasa merinding buat aku pribadi. Tapi sampai ketinggian 300an ribu kaki selanjutnya aman-aman saja.
Kira-kira satu setengah jam perjalanan Surabaya ke Makassar buat transit. Kita diajak puter-puter dulu naik bus di Bandara Sultan Hasanuddin buat cari pesawat yang angkut kita lagi ke Kendari.Kalau nggak salah itu jaraknya deket banget. Jalan kaki ke pesawat yang parkir buat kita lanjut aja bisa, kok. Jadinya satu bus ketawa nyadar pesawatnya deket.
Transit di Bandara Sultan Hasanuddin :)

Perbedaan waktu dengan Jatim cuma satu jam. Kira-kira sore gitu kita semua sampai di Bandara Halu Oleo Kendari. Malem. Cantik banget waktu kita mau mendarat di Kendari. Langit malam plus suasana kota yang kerlap-kerlip manja dari atas manjain mata banget.

Alhasil, dimana rencana sampai Kendari adalah siang paling enggak sore, kontingen sampai bandara Halu Oleo tet sekitar jam setengah 8an malam (lupa). First impression buat bandara di sana... sepi banget. Serius. Apalagi kita semua sampai malam. Mungkin kalau nggak pas bareng dengan kontingen lain yang juga sampai malam itu, bandaranya sepi sekali. Kebetulan, Jatim sampai bareng dengan Kalimantan (lupa Kalimantan mana), Jateng, Jabar, ada juga yang DIY, dan kontingen lain. Ramenya di antrean bagasi.. sambil liat-liatan gitu.

Wkwkwk.. lawan serasa mantan :)

Diary PEKSIMINAS XIII 2016 Kendari (Part 1) : Rempong Mau Keluar Jawa

Jawa Timur, Kompak, Rek! :)
Assalamualaikum, semua! *pakai gaya ala Ricis, hehehehe*

Very very late post!
Ini harusnya sudah aku tulis sejak Oktober lalu. Tapi sampai Desember hampir habis, baru deh tergerak buat nulis ini semua. Yups, seperti judul di atas, bisa dibilang ini adalah sequel dari "Diary PEKSIMIDA Jatim 2016 Part 1-3". Bukan cerita berseri tapi ini hanya cuilan-cuilan memori ketika sebuah even besar bernama pendek PEKSIMINAS secara sadis dan luar biasa menyedot aku untuk masuk ikut berpeluh-peluh di dalamnya. Hem.. tentu saja aku ikut, karena semua sudah sempat aku tulis di 3 part perjalanan PEKSIMIDA sebelumnya sebagai alasan WHY.... kenapa bisa sampai begini,

Inilah jawaban kenapa aku bisa sampai ikut PEKSIMINAS yang jauhnya minta ampun dari pintu rumah.

Untuk yang belum sempat baca apa yang terjadi sama aku sebelum cerita yang akan aku mulai paparkan ini, bisa buka link di bawah ini :

Diary PEKSIMIDA Jatim 2016 (Part 1) : Awal Langsung Drop 
Diary PEKSIMIDA Jatim 2016 (Part 2) : What Doesn't Kill You Makes You Stronger
Diary PEKSIMIDA Jatim 2016 (Part 3 - End) : Malaikat Juga Tahu

Baiklah, aku mulai sekarang, yes! :)

Pekan Seni Mahasiswa Nasional atau lebih enak disingkat saja dengan PEKSIMINAS, sudah rutin diadakan setiap dua tahun sekali dari aku belum brojol. Nama-nama seniman besar kebanyakan pernah merasakan berkompetisi di even ini, teman. Bayangkan saja, sastrawan yang aku pelajari tulisan-tulisannya di kampus juga pernah ada di posisiku. Ikut PEKSIMINAS, Nggak main-main ternyata even ini! Serius, nggak ecrek-ecrek. Persiapan sangat diperlukan untuk ikut semua serangkaian acara. Mulai dari seleksi tingkat daerah (PEKSIMIDA) yang tiap tangkai lomba diambil cuma satu ndil. Terus dikumpulkan jadi satu membentuk squad yang namanya kontigen.

Thursday, May 19, 2016

Diary PEKSIMIDA Jatim 2016 (Part 3 - End) : Malaikat Juga Tahu

Malam penutupan
Hal yang paling tidak enak kalau bersama dengan orang-orang adalah, menyusahkan mereka untuk ngurusin kita. Yups, itulah aku.

Sejak di Malang, aku adalah satu-satunya anak yang bikin susah semua orang karena aku sakit.

Keluar dari ruang lomba, nasi kotak yang aku bawa keluar sudah kering dan dingin kayak di lemari es. Ya, aku nggak suka makanan yang sudah dingin, apalagi kering. Di saat perut kayak mau hancur, tawaran Pak Antok datang.

"Beli makan di bawah, ya, sama mas Rijal sama pak Gatot!"

Aku harus jawab apa? Mulut nggak enak, tapi perut juga laper. Dipaksa beberapa kali, keputusannya adalah, Mas Rizal dan Pak Gatot turun buat beli nasi putih aja dan teh hangat (yang akhirnya ganti jeruk karena teh nggak ada). Aku akhirnya makan dengan perasaan super nggak enak. Mbak Aida mati-matian nemanin aku sambil nunggu Mbak Intan yang belum selesai.

Pulang dari lomba, kami dihadapkan dengan keputusan sulit (aduh bahasanya). Di Tuban, Pak Har menghendaki kami langsung pulang setelah lomba selesai tanpa menunggu keputusan pemenang. Tapi di sisi lain, panitia dengan halus seperti mengancam untuk kami tidak meninggalkan Malang sampai acara penutupan nanti malam. Ya Allah!

Badan rasanya mau hilang. Makin sakit dan nggak kuat ngapa-ngapain. Mau istirahat semuanya serba susah, (nah, lagi-lagi nyusain orang kan, Sifah!) Bu Asih, jadi pilihan satu-satunya. Kami semua datang ke kos tempat bu Asih tinggal. Di sana aku diberi tempat di kamarnya untuk istirahat. Lagi-lagi nyusahin orang. 
Dapat tempat istirahat di kos bu Asih.. alhamdulillah
Semua orang mau jalan-jalan, jadinya aku ditinggal di kos sendiri tapi ditemani mbak Aida yang sudi tinggal untuk nemenin aku. (lagi-lagi menyusahkan orang). Malu.. malu banget bisa sakit di saat seperti itu! Kami cuma berdua, tapi untungnya Firda dan Adit, yang panik karena tahu aku sakit, mereka cari tahu lokasi aku dengan ciri-ciri tempat yang alakadarnya aku infokan (maklum nggak paham jalan Malang). Firda dengan paniknya datang dan tanya-tanya. Kami curhat sebentar dan saling memotifasi satu sama lain. 

Ya, karena di sana aku sudah nggak mikir bakal bisa menang mengingat keadaan seperti itu.

Kami benar-benar tidak bisa pulang meski rencana tidak ikut penutupan hampir terealisasi. Jam 8 lebih malam itu kami berangkat ke gedung Samanta Krida lagi untuk ikut penutupan dan lihat lomba tari sekaligus pengumuman. 

Diary PEKSIMIDA Jatim 2016 (Part 2) : What Doesn't Kill You Makes You Stronger

Dari kiri: Mbak Intan, aku, Mbak Aida, Mas Rizal 
Baiklah, teman-teman..
Aku mau lanjut soal cerita bagaimana aku bisa sampai bobok di Malang. Hehehe..

Seperti yang aku ceritain di PART 1 , aku, Mbak Intan (penulisan lakon), dan Mbak Aida (penulisan puisi) harus berangkat ke Malang hari Senin pagi tanggal 16 Mei. Didampingi Pak Antok sebagai pembina, Mas Rizal  sebagai official terbaik (itu katanya), dan Pak Gatot sebagai driver paling strong seUNIROW, kami berangkat mulai jam 6 pagi. Mbak Aida waktu itu kami berangkat tanpa Mbak Aida yang rumahnya jauh, jadi kami pilih jemput Mbak Aida di rumahnya yang kebetulan satu jalur menuju Malang.

Sepanjang perjalanan, ya.. seperti yang sudah aku jelaskan di awal, badan memang belum fit. Sakit dan memang belum boleh capek-capek apalagi perjalanan jauh sampai 5 jam lebih. Aku mulai lemes dan... muntah. Aduhh mabok perjalanan yang nggak biasa. Kenapa? Biasanya aku nggak pernah muntah setiap awal perjalanan jauh, mungkin muntah tapi di perjalanan pulang.
Baru masuk kawasan Gresik, perut yang memang sedang bermasalah langsung kasih sinyal. Isi perut mendesak ingin keluar. Pertama yang keluar adalah air berlanjut.. semuanya. Oh sarapanku!!

Alhasil sepanjang perjalanan bisanya cuma tidur dan ngerang kesakitan nggak karuan. Semua orang coba menghibur sekaligus membully aku yang mabok perjalanan. Jiahhh.. makin drop nggak sih! Ditambah hormon lagi jungkir balik, maklum pas datang bulan hari pertama. Rasanya kayak semua orang di mobil itu mau aku makan! ups, sorry! Hehehe..

Sampainya di Universitas Brawijaya, Malang (waktunya siang, lupa tepatnya), badan makin lemes banget. Untung, para laki-laki langsung daftar dan putar balik menuju Griya Brawijaya (selanjutnya aku sebut GB). Kami menginap di sana, teman-teman. Tempatnya bagus dan lumayanlah.. buat tidur. Kecuali kantinnya, kalo kata Firda makanan di sana nggak enak. Hehehe.. kalau aku mungkin nggak begitu suka, gitu aja.. ^_^

Diary PEKSIMIDA Jatim 2016 (Part 1) : Awal Langsung Drop

Hi, everyone!
Rasanya kalau nggak ditulis, sayang saja ngendap di kepala. So, kali ini aku mau coba berbagi cerita tentang trip ke Malang untuk seleksi PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) untuk cari mahasiswa kontingen Jatim tahun ini, yang baru saja usai kemarin hari Rabu subuh (soalnya itu aku baru sampai rumah).

Yups, sekitar tanggal tanggal 14 Mei, itu hari Sabtu, ya, aku memang ada jadwal untuk latihan mata kuliah Drama I di kampus seperti biasanya. Sebelumnya, di hari Jumat (waktu itu aku lagi tiduran karena badan panas), Pak Antok (dosen) aku dapat kirim pesan SMS yang isinya minta aku ke kampus jam setengah 8 buat pembekalan untuk PEKSIMIDA. What?

Jumat malam, badan panas waktu dapat kabar ikut pembinaan PEKSIMIDA di kampus

Sebenarnya hal-hal yang berbau mendadak untuk lomba itu sudah biasa aku terima sejak SMA, teman. Lomba apa saja persiapannya selalu mendadak. Hari ini info, besok langsung pergi lomba. Ya, seperti itu. Ternyata, benar. Sempat ikut latihan teater sebentar dengan kelompok, mas Rizal (pembimbing teater kelompok aku yang paling kece) ditelepon pak Har (dosen sastra) yang minta dia sama aku ke lab bahasa. Akhirnya aku ikut pergilah ke sana.
Sepanjang perjalanan, Mas Rizal bilang, kalau ternyata pendaftaran tangkai penulisan sudah terlambat dari hari deadline. Nasib aku, Mbak Intan (yang terpilih mewakili cabang penulisan lakon) dan Mbak Aida (penulisan puisi) harus terkatung-katung.
Oh, ya, sebelumnya memang kami bertiga sempat mengikuti seleksi di kampus untuk ikut di tingkat provinsi nantinya ini.

Beberapa mahasiswa untuk tangkai perlombaan lain seperti nyanyi dan monolog memang masih punya waktu. Di sana mereka diurusin dulu oleh Pak Har dan Pak Antok. Sedangkan kami bertiga.. kata Mbak Intan, "sabar." Aku manggut-manggut aja.

Pak Har sendiri sempat bilang kalau, "sampai jam 12 siang belum ada konfirmasi kita bisa daftar atau tidak, terpaksa penulisan tidak jadi berangkat."
Dussss!!! Ya, mau bagaimana lagi, Dalam hati cuma bisa sabar dan pasrah, kalau nasibnya belum dapat kesempatan ya sudah. Tapi kami bertiga masih harus isi formulir untuk jaga-jaga misal jadi berangkat. Sebenarnya sih, aku sudah hopeless.
Isi formulir dulu buat jaga-jaga :)

Sepanjang pengalaman ikut lomba, kalau sudah ada pertanda-pertanda buruk seperti itu biasanya berkahir buruk, teman-teman. Belum apa-apa langsung drop. Selain info terlambat, kondisi aku waktu itu masih sakit. wajah pucet banget dan lemes nggak ketulungan.
Niatnya waktu itu mau pulang, eh.. dari dalam sanggar, Pak Har panggil lagi dan teriak..

Friday, April 29, 2016

2016 Show Off?

Belum ada postingan di tahun 2016 ini. Aku baru sadar. Hehehe.. toh, misalnya aku tulis ulasan seperti ini, apa ada yang mau baca. Baiklah, ada atau tidak, aku cuma pengen tulis sesuatu aja soal.. siapa diriku di tahun 2016.

Sebenarnya ini ada kaitannya dengan judul di atas. Show off. Kenapa aku tulis show off, karena.. sedikit banyak tahun ini, jeleknya, selalu mengarah kepada hal itu. Kalau sudah terjadi, aku langsung istigfar. Bagaimana lagi coba, tahun ini adalah tahun aku 'ditelanjangi' di depan publik.

Dan ini yang membuat aku muak!
Astagfirullahaladzim...

Dulu, nama Sifah Nur, sengaja aku jadikan nama pena karena alasan.. bisa sembunyikan identitas asliku di depan publik. Biarkan orang-orang mengenal seorang Ifah apa adanya ketika mereka bertemu aku, anak perempuan yang suka dibully dan bukan siapa-siapa. Nggak akan noleh waktu aku lewat. Dulu aku pernah iri dengan teman-teman yang cantik, pintar, populer, dikenal oleh banyak orang.. tanpa tahu bagaimana susahnya mengemban status kepopuleran itu sendiri.Ssifat-sifat buruk yang bisa muncul begitu saja ketika nama dielu-elukan oleh khalayak ramai. Bodohnya aku pernah seperti itu.

Thursday, December 10, 2015

Lahirnya Annelies Shofia di dunia Fanfiction

Em.. apa, ya?
Oke, bismillahirrohmanirohim.

Hi, everyone!
Sudah satu bulanan aku (ya, kali ini pakai subjek aku aja. Mulai sekarang) nggak nulis di blog ini, ya. Lama juga. Tapi, aku masih nulis, kok, walaupun sempat laptop nggak bisa kerja beberapa minggu. Biasa, ngambek. Jadinya nulis pakai tangan, bolpoin, dan buku aja. Nah, berhubung banyak banget tugas dari kampus, aku nggak bisa banyak buat tulisan, buat cerita apapun. Hanya bisa baca.

Miris. Dari situlah.. aku kenal sama fanfiction. Ya, fanfiction. Sampai lahirlah nama Annelies Shofia dalam peradaban perfanfictionan Indonesia bahkan dunia --lebay. Tahu, kan?

Kacau, hidup tanpa laptop itu terjadi berhari-hari banget. Dan menyiksa (apalagi masih ada tugas penerbit yang hingga sekarang aku nggak bisa selesaiin). Tepatnya sekitar awal tahun ini, hanya bermodal ponsel, maunya nggak jauh-jauh sama baca-baca. Beberapa buku di lemari memang masih banyak yang belum selesai aku baca, tapi aku pengen banget cari bacaan yang lain daripada yang lain. Apalagi waktu malam. Bawa buku ke atas ranjang di tengah sinar lampu yang minim jadi aktifitas yang nyiksa banget buat aktifitas 'baca cerita sebelum tidur'.

Seperti yang aku bilang tadi, modalnya ponsel.. hape, kawan-kawan. Ponsel aku jadi sasaran empuk cari bacaan lewat Google. Entah awalnya aku ngesearch apa, tiba-tiba muncul beberapa cerpen yang berasal dari laman fanfiction.net. Apa itu?


Thursday, November 05, 2015

Mencoba App Blogger Android

Hi, everyone!
Ifah bingung mau coba nulis apa. Nah, sebenarnya ini Ifah lagi nulis sambil tiduran. Ya, tiduran.

Soalnya memang lagi nggak enak badan juga.

Terus kenapa bisa ngetik?
Karena... Jenjenggg.. Ifah pakek aplikasi blogger dari Android. Jadi ngetiknya juga cuma pake jempol doang. Hahahaha! Oke ini baru percobaan, kalau memang nggak asik nanti uninstall aja.

So, postingan kali ini nggak jelas..
Lupakan!

Wednesday, May 20, 2015

Kumpul-Kumpul bersama ex-Kelas C

Suatu kebahagiaan adalah saat rame-rame kumpul dengan teman-teman.

Hari ini Ifah seru-seruan nih satu kelas, I mean satu kelas ini hanya teman-teman dari kelas C dulu. Sekarang, kan, Ifah dan teman-teman dari kelas C sudah bergabung dengan teman-teman di kelas A.
Nah, acara tadi siang itu diadakan di tempat kontrakan Nora. Letaknya nggak begitu jauh dari kampus sih, jalan kaki juga bisa.

Tapi berhubung beberapa anak ada yang bawa motor.. jadilah kita yang niatnya mau jalan kaki (itung-itung joging) malah diboyong naik motor. Ada yang sampe bonceng anak dua sekaligus!!
(ps: jangan ditiru!!)

Minggu lalu, inisiatif ini muncul dari beberapa teman buat ngadain acara bakar-bakar. Jadilah semua teman setuju buat nyumbang uang 10 ribu masing-masing anak buat beli ayam dan yang lainnya. Semuanya ikut, kecuali satu si Ira. Dia mau pulang. Maklum kan acaranya hari Rabu, hari terakhir kuliah. Kebanyakan anak yang kos pada pulang ke kota masing-masing.

Balik lagi ke perjalanan. Ifah di bonceng Ainur pakai motor ke kontrakan Nora. Pas sampai, di sana itu persiapan tungku pembakarnya udah ditata siap dengan arangnya. Yang kerja para anak cowok sedangkan cewek-cewek mulai siapkan bumbu.

Sunday, May 03, 2015

Raise Your Wands!

Banyak hal luar biasa terjadi sampai bikin Ifah hampir nangis kejang. Apa itu?
Satu minggu besok!

Why? Banyak tugas yang menanti Ifah mulai Senin besok. Dalam tiga hari kuliah, Senin dan Selasa Ifah ada presentasi.. Allahu Akbar! Ifah dan teman-teman yang lain kerja keras banget buat minggu besok. Dari nyusun makalah yang nggak kelar-kelar, nahan Aisyah (teman Ifah) di rumah sampai nggak pulang-pulang buat nemenin ngerjain tugas.

Saking bingungnya, urusan buat update fanfic nggak terwujud.

Tapi.. Ifah nyempetin banget beberapa hari lalu untuk buat cover lagu sama ffn. Bisa dilihat di soundcloud dan ffn Ifah, ya.

Berhubung kemarin adalah tanggal 2 Mei bertepatan dengan hari pendidikan nasional dan peringatan 17 tahun Battle of  Hogwarts (ketahuan ngefans Harry Potter) Ifah jadi ikut mengheningkan cipta.

Buat apa?


  1. Mengheningkan cipta untuk Ki Hajar Dewantara (beliau ini salah satu pahlawan berjasa dalam karir Ifah. Khususnya pada biografinya yang mengantarkan Ifah dapat piala)
  2. Mengheningkan cipta untuk para tokoh fiksi karya Mom Jo (JK Rowling) di serial Harry Potter yang meninggal di Battle of Hogwarts. Seharian kemarin hastag #17thBattleofHogwarts jadi tranding topik di twitter. Gila!! Selain #RoyalBaby tentunya. Selamat juga untuk Pangeran William dan Kate atas kelahiran princessnya.
  3. Mengheningkan cipta untuk.. diri Ifah sendiri. Semoga diberi kecerdasan dan kekuatan untuk minggu esok. Amin :)


Jadilah.. menunduk, mengangkat tongkat, dan menegadahkan kedua tangan.. berdoa!!

Monday, April 06, 2015

I'm Sick, but I Don't Know What I Have?

Whats wrong with me?
Agak menakutkan waktu sadar sama kesehatan tahun ini. Luar biasa drop!!

Masa iya, sejak Januari sakit datang bertubi-tubi. Mulai dari hidung yang, errr tiba-tiba gampang banget ngeluarin air. Oke, Ifah perjelas di sini air ini emang benar air. Tiap badan di posisi miring, nunduk (misalnya kayak waktu sholat), tiduran atau tengkurap sekalipun, tiba-tiba dari pelipis ngerasa ada yang lewat terus nembus hidung, dan... jrussss!!! Keluar air. Selembar tisu tiga lapis bahkan bisa kewalahan nampungnya.

Ini air, bukan ingus. Cair dan nggak berbau.
Mungkin teman-teman sekalian bisa bantu ini kenapa?

Keabsurdan lain yang terjadi saat Ifah sakit adalah panas yang datang saat senja tiba. Ceilleee.. Sehari setelah UAS di bulan Februari, penyakit ini datang. Ciri-cirinya mirip kayak penyakit tipus. Stress dong! Panas, turun, panas lagi. Badan lemes, suka mual, perut bagian bawah sakit.

Tiga hari mati-matian nahan sakit, Ibu nggak tega langsung seret Ifah ke dokter. Alhamdulillah, cuma panas biasa. But, belum selesai di sini. Satu minggu lumyana baik. Tapi nggak untuk pencernaan. Ini kebiasaan buruk Ifah setiap sakit. Susah minum air putih dan males ke toilet. Sembelit.

Yeahh :(

Ahh.. untuk urusan ini Ifah nggak bisa cerita banyak. Yang pastinya itu sakit banget!

Hampir seminggu nggak bisa BAB. Sakitnya minta ampun, sampai salah satu organ di dalam perut kena masalah. Aduhhh.... Banyak makan buah dan berusaha jadi teman dengan minuman Yakult. Makanan yang masuk juga nggak sembarangan. No nasi berhari-hari!!
Serasa jadi orang bule! *plakk

Maret pertengahan, kuliah semester 2 mau mulai, tiba-tiba malam hari badan panas tinggi, badan merah-merah. Banyak bintik di mana-mana. Terutama di bagian lipatan badan yang lembab (pikir sendiri), bagian wajah dan tangan. Muka ini sampai merah kalau udah kepanasan, dan gatelnya itu.... minta ampun.

Alhasil, bak Prof. Snape, Ibu langsung ngeracik ramuan. Kuning telur ayam kampung plus sari kunyit. Iyakkk... rasanya enek buanget!!

Sudah selesai sakitnya?

Not yet! Ada kecelakaan kecil yang terjadi di dekat sumur. What? Jadi begini, Ifah lagi cuci piring banyak banget. Karena saking banyaknya, Ifah capek juga satu-satu bawa piring dan perlengkapan lain ke rak. Agak ngayal jadi pelayan di rumah makan Padang, Ifah coba bawa piring dan gelas sekaligus sampai bertumpuk-tumpuk. Itu di tangan kanan, belum di tangan kiri.

Tangan kiri Ifah cuma pegang satu, sih. Cuma cobek batu, yang berat.

Kewalahan mau naruh pirih, Ifah lupa tangan kiri masih pegang cobek batu itu. Dan set set set!!! Tangan kiri Ifah kayak kepelintir ke belakang pengang cobek yang hampir jatuh. Jadinya, hampir seminggu tangan kiri Ifah nggak bisa bergerak.

Dan.. April ini, pas Ifah ngetik postingan ini. Baiklah, Ifah bilang.. Ifah tetap sakit. Bersin nggak selesai-selesai. Tenggorokan sakit. Ingus mulai mampir.

I have weird feelings  about my healthy in my brain. Especially in this year.

Ya, semoga tahun ini nggak parah-parah banget ya sakitnya. Mohon doanya semoga Ifah sehat selalu.
Sekadar cuap-cuap malam!

Thanks,
x

Tuesday, January 20, 2015

Back to School!! The Whole Story

Receptionist baru di MAN Tuban
Jumat lalu Ifah digerebek sama dua teman jaman MA (sama seperti SMA), si Firda dan Iza. Firda lagi liburan setelah UAS sedangkan Iza minggat sebentar dari tempat kerjananya di koprasi simpan pinjam. Hahaha.. sempat gurau aja ke dia soal hukum simpan pinjam yang pernah Ifah dan teman-teman pelajari di mapel Fikih waktu Aliyah. Tapi, kata Iza alhamdulillah dia masih paham dan bilang kalau koprasinya itu masih mengikuti syariat Islam. Syukurlah.

Firda dan Iza datang untuk main saja. Berhubung hari Jumat, mereka main ke rumah cuma sebentar. Ada satu hal yang sempat Ifah tanya ke Firda, yaitu masalah SKHU dan SKHUAMBN yang belom sempat Ifah ambil.

Jadilah tadi setelah dari kampus langsung naik angkot ke MAN Tuban (sekolah Ifah). Sampai di MAN yang datang ada hanya Ifah, Firda, Adit, Tian dan menyusul Iffan (karena memang sudah janjian). Dari luar sih MAN masih sama seperti dulu. Cuma memang lebih tertata rapi saja. Maklum sudah hampir setahun nggak mampir setelah lulus.

Pas masuk ke bagian lobby kantor, booyahh!! Serasa kayak masuk ke bank syariah. Hehehe.. berubah banget. Lobby makin bersih, sofanya sudah nggak ada diganti sama kursi tunggu besi panjang seperti yang ada di rumah sakit atau bank. Di tempat yang sering digunakan sebagai pusat informasi sekarang jadi seperti tempat resepsionis hotel. Mejanya tinggi, backgroudnya ada logo Madrasah yang guede dan microphone meja seperti di meja-meja orang sidang. Keren. Ada juga TV plasma sekitar 40" nemplok di tembok mengarah ke tempat duduk tunggu. Pintunya juga ganti dari kaca, dan ruang TU (Tata Usaha)nya makin keren seperti kantoran (ya emang kantor).