Assalamualaikum.. welcome to my blog, guys..!! ^_^

Adsense

Wednesday, July 24, 2019

Pengalaman (Pertama Kali) ke Puskesmas buat Periksa Gigi

Assalamualaikum...

Hai, semua. Apa kabar? Barangkali ada yang lagi sakit kayak saya? Huhuhu... Sakitnya sih masih kelihatan cetar gitu. Mata melek lebar, wajah berseri, tenaga lumayan, tapi gigi cenat-cenut, parahh. Jadi, gigi aku ada masalah, gais...

Uhhh... Berlubang gitu. Padahal dulu kecil. Tapi lama-lama lubangnya gede banget di gigi graham bawah bagian kiri aku. Tiap malem ditangisi gegara sakit. Karena saking nggak kuatnya, larilah ke puskesmas buat diobatin. Yuhu.. kali ini aku mau berbagi cerita masalah awal kali ke puskesmas buat periksa, khususnya gigi.

Pengalaman pertama kali ke puskesmas? Nggak juga, sih. Jaman masih bocah dulu ya apa-apa ke puskesmas. Udah gedean aja kalau sakit larinya ke dokter spesialis langsung (sok wow), enggak ke puskesmas. Nah, berhubung di (usia) dewasa ini aku ada keluhan gigi berlubang dan badget sedang low-lownya, pilihan dari beberapa bude aku saranin kalau ke puskesmas saja.

Katanya dulu gratis.. Kan lumayan, dong. Sekalipun bayar biasanya murah sekali.

But, aku nggak langsung bahagia gitu saja dengar gratisan. Buat memastikan aku coba browsing seharian buat cari tahu periksa di puskesmas itu macam bagaimana. Dan, beberapa tulisan sobat-sobat blogger lain soal pengalaman mereka ke puskesmas khususnya periksa gigi sangat membantu sekali. Alhasil, sudah tahulah gambarannya bagaimana, alur-alurnya, sampai tarif yang sekiranya didapat waktu kita periksa gigi.

Daripada bingung, langsung dah cus ke puskesmas, bareng bude sama Ibuk. Dari rumah bawa fotokopi KTP (print-printan sih, ngeprint sendiri di rumah dari KTP yg aku scan. Dan fotokopi KTP emang udah selalu ready di dompet), sama jaga-jaga selembar fotokopi KK yang masih kesimpen di tas waktu dulu ngurus upgrade kartu sim di Grapari Telkomsel.

Niatnya ajak bude karena udah pengalaman ke puskesmas bolak-balik, ya. Tapi tetep aja belibet, maklum udah berusia juga. Beliau yang udah punya kartu sehat enak aja gitu buat ikutan periksa.

Sementara aku???????????


Baiklah, aku akan bahas dari segi diriku aja yang newbie masuk puskesmas di masa milenial ini. Btw, aku periksa di puskesmas Kebonsari Tuban, Jatim, ya.



Meja informasi


Jadi, awal masuk aku, Bude, dan Ibuk langsung ke tempat informasi. Di sana ada kotak isinya kartu antrean. Bude langsung aja ambil, tapi gegara aku masih baru takut salah gitu.. aku tanya dulu sama pihak informasi. Kebetulan dia anak magang (entah SMA atau kuliah).

"Selamat pagi, bu. Mau periksa apa?"

Tik tok... Aku diem sebentar, "iya, mbak. Mau periksa gigi."
Karena berhubung di meja ada contoh kartu berobat, tanyalah diriku masalah itu. "Harus daftar kartu berobat dulu, ya, Mbak?" Aduh sok taunya aku...

Lantas si Mbak magang bilang, "baru pertama? ini satu keluarga?" Mbaknya bingung gegara kita bertiga kayak mau ngelabrak barengan ke meja infomasi. Tapi bude kan udah pede sama kartu berobatnya.

"Kita beda mau periksanya, Mbak." Jawab aku.

Si Budeku diminta ambil nomor antrean dulu. Dapat nomor 3, sementara aku masih belum berani ambil. Si Mbak magang kembali jelasin, "kartu berobat ini satu saja untuk satu keluarga, Mbak." Si Mbak magang langsung ganti nama sapaan aku sama Mbak. Udah mulai nyaman. Ternyata bener Ibuk. Sebenarnya dari keluarga kami, dulu punya kartu berobat. Udah lamaaa banget dari jaman aku masih bayi. Satu kartu atas nama kepala keluarga gitu bisa dipakai semua anggota keluarga. Mirip sama yang dijelaskan Mbak magang. Nah, karena daripada ribet ibuk jelasin lagi kalau dulu udah punya bla bla bla.. Aku diminta ambil nomor antrean juga.

Nomor 4, nunggu sebentar. Sembari nunggu, aku lihat sekeliling. Puskesmas Kebonsari Tuban nggak luas-luas banget. Tapi asri dan jauh lebih bagus dari dulu jaman masih aku kecil (lokasinya pindah juga). Ada spanduk yang dipasang di sana jelasin soal peraturan sejak Februari 2018, pelayanan dikenai biaya kecuali pakai KIS dan BPJS. Di sesi kiri aku duduk ada papan panjang yang isinya daftar harga pelayanan. Sumpah, range biayanya murah sekali. Antara Rp 5.000 sampai puluhan ribu saja, seingatku. Yang aku ingat utuk bagian Gigi ada di sekitar 10.000 sampai Rp 35.000. Seperti tumpatan gigi sementara /permanen (nambal gitu ya maksudnya) sekitar Rp 25.000, bersih karang gigi Rp 25.000 sampai Rp 35.000 kalau nggak salah per-rahangnya, dll.

Tarif pemeriksaan di puskesmas bisa lihat DI SINI

 Setelah nunggu sebentar, akhirnya dipanggil lagi.

"Jadi, belum pernah ada yang periksa di sini dari bapak, ibu, atau mbaknya?" Ada petugas informasi lain yang mulai menangani. Ibuk lagi-lagi jelasin kalau dulu pernah dan kartu berobatnya jadul keluarga kami sudah hilang.
Ya sudah, akhirnya aku dimintai fotokopi KTP 1 buah dan ditanyai nama kepala keluarga yang ada di KK. Inget-inget nama bapak, TTLnya juga. Beres, deh. Dapat kartu berobat yang ditulis tangan sama petugasnya sambil dijelasin,
"Kartu ini berlaku untuk semua anggota keluarga dalam KK yang sama. Kalau mau datang periksa, bawa ini dan fotokopi KTP."

Akhirnya jelas sudah. Aku diberi satu Kartu Berobat baru dan satu kertas kuning untuk kartu kepuasan. Entar dimasukkan ke kotak kepuasan yang ada dua dengan lambang emotikon senyum dan sedih. Terserah mau pilih yang mana nanti. Dimasukkan setelah selesai periksa.

Nama KK isinya nama kepala keluarga
yang ada di KK kita, ya.
Nama Bapak misalnya atau suami.
Setelah jelasin aku mau periksa gigi, si Mbak magang balik lagi kasih tahu buat langsung nunggu ke depan bagian pelayanan Gigi & Mulut. Cuma jalan beberapa langkah udah sampai.

Di dalam memang sudah ada yang jaga, tapi aku nggak dipanggil. Padahal cuma aku doang. Si ibu keluar dari ruangannya. Senyum ke aku. Uhh, manisnya. Beberapa saat kemudian, dari pihak informasi masuk ke ruangan itu sambil bawa map putih logo puskesmas dan di taruh ke meja periksa. Aku tebak ya, itu data rekap aku.

Si ibu akhirnya balik dan nama aku akhirnya dipanggil.
Daripada nunggu di luar, Ibuk ikut masuk juga. Hahaha.. enggak tahu ibuk takut apa enggak tadi. Soalnya ibuk takut denger suara mesinnya.
Aku duduk di depan meja si ibu yang periksa. Ternyata beliau perawatnya bu dokter gigi. Bu dokter gigi lagi ndak ada, katanya. Tapi si ibu ini bagus kok periksanya.



Ruang Pelayanan Gigi & Mulut, sebelahan sama Gizi

Pertama ditanyai keluhan, "ada yang dikeluhkan, Mbak?" tanya si ibu (lupa namanya).
"Kayaknya gigi saya ada yang lubang, bu. Sakit banget!"
"Ow, kalau gitu yuk duduk dulu di kursi sana."

Ada kursi periksa warna silver sama merah. Masih kelihatan baru gitu. Mantap. Waktu duduk, berasa deg-degan tapi excited banget (hobinya lihat video bersihin gigi sih di Youtube). Lampu dinyalakan dan diarahkan ke mulut. Aku pikir bakal terang banget dan bikin silau, ternyata enggak.

"Yang sakit gigi mana?" tanya si ibu dokter (sebutnya gitu aja, ya. biar enak. Walaupun beliau nggak mau dipanggil bu dokter karena memang bukan dokter tapi perawat ahli)
Berhubung ini mulut udah disuruh buka, aku tunjuk aja di pipi kiri bawah aku. Dan... waktu diperiksa nggak kelihatan. Gigi yang ditemukan bu dokter dicoba pukul-pukul sama alatnya. Tuk tuk!
"Sakit, Mbak?"
Saya manggut karena memang sakit. Cleng gitu.
"Saya bersihkan dulu ya, Mbak."
Dan selanjutnya suara mesin nging-nging terdengar. Awalnya kena gigi masih bisa nawar. Eh, pas mulai agak masuk ke lubangnya, buset... kayak kesenggol "dagingnya" di dalem berasa kepala mau putus.. :(

"Tuh, kelihatan sekarang lubangnya."
Si ibu dokter langsung tanya ngilu ya tadi waktu dibersihin. Aku jawab iya bangettt..
Dan akhirnya keputusannya si bu dokter nyumpal beberapa sisi gigi aku yang berlubang dengan kapas dan yang lubang diberi semacam lem warna pink gitu yang rasanya rada aneh-aneh obat. Kata bu dokter itu masih observasi. Masih di tambal sementara. Beberapa kali diminta kumur, akhirnya selesai.

Di meja ibu dokter jelasin kalau nanti bakal di kasih resep obat yang hanya diminum waktu sakit banget aja. Kalau enggak, ya nggak perlu. Biar tahu seberapa sakit aku bisa tahan. Lima hari aku diminta balik lagi. Buat cek dan nanti bakal di tambal atau dicabut.

"Lima hari lagi Mbak balik lagi. Makan seperti biasa dan usahakan ngunyah di sebelah kanan yang nggak sakit sampai nunggu instruksi dari saya. Nanti saya kasih obat pereda nyeri. Di minum saat sakitnya pakai banget."

Setelah dapat wejangan awal, aku diberi kartu pembayaran. Disuruh bu dokter bayar di loket. Nanti tanda pembayarannya itu diminta lagi sama bu dokter buat arsip rekap hasil observasi periksaan aku buat nanti dituker lagi sama resep obatnya.

Aku bayarlah di loket kasir. Bayar berapa? Rp 25.000 untuk keterangan tumpatan sementara a.ka. tambalan sementara. Setelah bayar, surat yang dikasih bu dokter dibalikin lagi dan diminta buat dikasihkan ke dokter yang periksa tadi. Kalau struk bukti pembayarannya langsung aku simpan.

Struk pembayarannya disuruh nyimpen aja gitu..

Balik lagi ke ruang bu dokter yang lagi ngisi rekapan medis aku di map yang tadi dikasih petugas di awal. Aku serahin lagi suratnya tadi. Terus mulai lagi dijelasin soal bagaimana aku nanti ngurusin tambalan sementara di gigi aku ini. Diminta 5 hari balik lagi dan nanti bakal mau ditambal beneran atau dicabut yang konsekuensinya aku ompong, kyaaa....

Terakhir, aku diberi resep dan ditebus di loket farmasi.
Nah, di sini aku dapat humor. Ya maklum karena orang baru, aku memang udah paham sama alurnya penebusan obat. Resep di taruh di keranjang kecil di sisi ruang farmasi, terus ngambil obatnya di lubang loket sisi lainnya. Eh, udah jalan mau naruh resep, Ibu teriak, "di situ loh, dek!"
Aku manut gegara ada bude aku yang juga baru selesai cek up kesehatan lagi ambil obat di lubang loket farmasi.

Dan.. salah dong. Bener aku di awal. Ada bapak petugas yang kasih tahu taruh resep di tempat numpuk resep dan ambil obat di lubang loketnya. Sampe di jelasin sama Mbak-mbak farmasi sama si bapak petugas itu. Kampret lah.. ibuk gue bikin sesat di jalan.

Obat anti nyeri legend banget!

Obat akhirnya aku dapat. Obat yang memang udah sering ada di rumah biasa ibu konsumsi waktu nyeri. Dijelasin sebentar sama Mbak bagian farmasi dan cusss pulang...
Hebohnya diriku karena berhasil melewati rutinitas di puskesmas di masa dewasa ini. Hahaha.. seru, apalagi ibuk ngemalak uang kembalian sampe diketawain mas tukang parkir. Pas bongkar tas, ternyata lupa dong masukkan kertas kepuasan.. Hahaha...

Balik lagi dong masuk puskesmas dan cari kotak kepuasan. Emotikon senyum aku isi. Ye...

Dan ternyata.. seru sekali pegalaman datang ke puskesmas. Puskesmas sekarang maju loh. Jangan bilang nggak percaya periksa ke puskesmas gegara takut ahli kesehatan di sana nggak kompeten. Di coba dulu. Nggak kalah kok sama rumah sakit besar. Apalagi tarifnya jauh lebih terjangkau.
Bude aku malah gratis loh di bagian pelayanan kesehatan umum. Dapat obat seabrek setelah diperiksa rinci padahal nggak pake BPJS atau KIS.

So, jangan takut lagi ke puskesmas. Percayakan pelayanan kesehatan kalian di sana, ya. Petugas kesehatannya ramah baik banget (malah diajak curhat sama ibuk tadi si bu dokter), petugasnya juga seru banget... Puas banget. Mungkin nanti bakal coba bersihin karang gigi di sana, deh..

Semoga sehat selalu, semua!

Sifah xoxo



No comments:

Post a Comment