Assalamualaikum.. welcome to my blog, guys..!! ^_^

Adsense

Monday, July 08, 2013

Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara


Sumber: Google.com
Ki Hajar Dewantara terlahir dari keluarga terpandang. Tepatnya di keraton Pura Pakualaman. Gelar besar Raden Mas tersemat di depan nama lahirnya, Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Gelar ini secara otomatis dipakai oleh semua kerajaan di Jawa pewaris Mataram, pada seorang laki-laki keturunan bangsawan silsilah kedua hingga ketujuh dari pemimpin terdekat.
Ayahnya bernama K.P.H. Suryaningrat dan ibu bernama Raden Ayu Sandiyah, yang diurutkan dalam silsilah keturunan masih buyut dari seorang keturunan Sunan Kalijaga, Nyai Ageng Serang.
Suwardi, panggilan akrab semasa kecilnya, memulai pendidikannya berbasis agama di sebuah pesantren asuhan K.H. Abdurrahman yaitu Pesantren Kalasan. Julukan khas dari sang kyai “Jemblung Trunogati” atau seorang anak berperawakan kecil dengan perut buncit namun memiliki pengetahuan yang luas. 
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sebuah sekolah dasar terjuluk ELS ( Europeesche Lagere School) menjadi tempat Suwardi menempuh pendidikan dasar. Sejak tahun 1903, sekolah ini dibuka untuk orang-orang pribumi yang terbilang terpandang, mampu secara finansial dan warga Tionghoa. Karena sebelumnya hanya diperuntukkan kepada orang-orang warga Belanda. Seiring berjalannya waktu, pihak Belanda merasa ada dampak negativ dari masuknya orang pribumi, sehingga ELS kembali dikhususkan bagi warga Belanda saja. Namun ditahun 1907, sekolah khusus bagi pribumi dibuka.
Tamat dari ELS, Suwardi melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru Belanda (Kweekschool). Setahun kemudian ia berpindah ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) berkat bantuan sang kakak, Surjopranoto dengan menerima beasiswa berkat kecakapannya berbahasa Belanda dan kecerdasan yang luar biasa. Walaupun secara finansial ia masih mampu bersekolah di STOVIA berkat warisan dari Sri Paku Alam V.
Suwardi hanya bersekolah di STOVIA selama lima tahun. Bukan karena lulus, namun dikarenakan ia tidak naik kelas karena sakit selama empat bulan sehingga beasiswanya dari STOVIA dicabut begitu saja. Banyak konflik mewarnai pencabutan beasiswanya, mulai dari bebrbau politik hingga pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

Selepas keluar dari STOVIA, Suwardi bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar pada masa itu, semisal Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, kaoem Moeda, Tjahaja Timur, dan Poesara. Kemudian menerbitkan Koran sendiri Goentoer Bergerak dan Hindia Bergerak.
Selain aktif di dunia jurnalistik, Suwardi ikut bergerak juga dibidang organisasi sosial-politik. Budi Utomolah tempatnya ikut berkiprah di seksi propaganda untuk mensosialisasikan pentingnya persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara. Dilain pihak, 25 Desember 1912, Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan Dr. Cipto Mangunkusumo diikuti pula oleh Suwardi mendirikan partai politik pertama beraliran nasionalisme, Indische Partij. Karena pemikiran ketiganya, dikenallah mereka dengan julukan “Tiga Serangkai”.
Namun sayang, pendaftaran status badan hukum Indische Partij ditolak oleh Gubernur Jendral Hindia-Belanda, Indenburg pada tanggal 11 Maret 1913. Tidak berhenti disini saja, Suwardi ikut membentuk Komite Bumiputera di bulan November 1913 sebagai komite tanding kepada Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Belanda. Kritikannya yang begitu termasyur dimuat dalam surat kabar de Expres milik Douwes Dekker dalam tulisan berjudul Als Ik Een Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Dan akibatnya, ia dikenakan hukuman internering (hukum buang) ke Pulau Bangka.
Suwardi mendapatkan pembelaan dari kedua sahabatnya, Douwes Dekker dan Dr. Cipto Mangunkusumo dengan menerbitkan tulisan bernada pembelaan. Alhasil, keduanya mendapat hukuman pula. Douwes Dekker dibuang di Kupang sedangkan Dr. Cipto Mangunkusumo dibuang ke Pulau Banda. Namun, ketiganya menghendaki untuk dibuang ke Negeri Belanda agar dapat belajar lebih banyak lagi.
Sebelum menjalani pengasingannya Agustus tahun1913, Suwardi menikah dengan Raden Ayu Sutartinah Sasraningrat yang merupakan sepupu Suwardi sendiri pada tahun 1907. Dalam masa pembuangan, Di Belanda Suwardi menggunakan kesempatannya untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran hingga mendapat sertifikat sebagai pendidik dan berhasil menjalani masa pembuangan dengan baik hingga memperoleh Europeesche Akte. Untuk memenuhi kebutuhannya, istri dan kedua anaknya, Ni Sutapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram, Suwardi bekerja sebagai jurnalis guru Taman Kanak-Kanak (Frobel School) di Belanda
Di Belanda, Suwardi perlahan membuka satu persatu gagasannya dalam hal kemerdekaan Indonesia melalui bidang pendidikan nasional. Teori-teori tentang kontinuitas, konvergensi dan konsentrisme telah ia praktikan sejak menempuh pendidikan di Belanda. Tahun 1919, bersama istri dan putrinya, Ni Asti, berhasil kembali ke tanah air.
Tanggal 3 Juli 1922, bersama rekan-rekan seperjuangannya, Suwardi mendirikan perguruan bercorak nasional, yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa. Konsep pendidikannya memadukan pendidikan gaya Eropa yang modern dengan nuansa seni Jawa tradisonal lumayan kental.
Walaupun Suwardi kini berkecimpung di dunia pendidikan, ia lantas tidak serta-merta melupakan kegiatannya dikancah perpolitikan. Sang istri sempat membuat Suwardi ingin membatalkan niatnya untuk melanjutkan berpolitik dan tetap di dunia pendidikan yang ia geluti hingga di negeri Belanda.
Menurut hitungan Tahun Caka ketika usianya menginjak genap 40 tahun, namanya berganti menjadi Ki Hajar Dewantara pada 23 Februari 1928. Nama Ki Hajar sendiri diambil dari hasil berbagai diskusi yang ia ikuti. Perubahan namanya itu diikuti pula perubahan sikapnya yang lebih kooperatif. Ia meninggalkan garis radikal seperti semasa mudanya dan kembali melihat lagi warisan kebudayaan Jawa.
Ki Hajar akhirnya mewakafkan seluruh perguruan Tamansiswa pada 7 Agustus 1930. Dalam masa-masa mengurus Tamansiswa, Ki Hajar tetap rajin menulis. Tulisannya kini lebih bernafaskan pendidikan dan kebudayaan berkebangsaan. Semuanya berhasil menata dasar-dasar pendidikan nasional bangi bangsa Indonesia kedepannya.
Gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ia terima pada tahun 1957. Berselang dua tahu kemudian, tepatnya 26 April 1959, Ki Hajar Dewantara sampai pada ujung usianya. Saat pemakaman Ki Hajar, Panglima Tetorium IB Letkol Soehartolah yang melepas pemakamannya hingga ke Kompleks Wijayabrata.
Untuk mengingat jasa-jasanya, satu-persatu penganugrahan diberikan. Mulai dari pengangkatan sebagai Ketua (Anumerta) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk mengingat jasa-jasanya di dunia jurnalistik. Ada pula Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tanggal 28 November 1959 yang menetapkan Ki Hajar Dewantara menjadi Bapak Pendidikan Nasional. serta hari kelahirnya, 2 Mei ditetepkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Selanjutnya, 17 Agustus 1960 Ki Hajar dianugerahi kembali Bintang Mahaputra I. Dan dilanjutkan 20 Mei 1961 pemberian tanda kehormatan Satya Lancana Kemerdekaan. Dan tidak lupa, namanya kembali diabadikan sebagai salah satu nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara dan potret dirinya diabadikan pula pada uang kertas pecahan Rp 20.000.
Pada masa Orde Baru, Tamansiswa dibubarkan Nyi Hajar. Nyi Hajar seorang yang pemberani dengan pembelaan atas nama suami untuk Tamansiswa dengan melaksanakan konsep Tut Wuri Handayani. Ketika diangkat sebagai Pemimpin Umum Persatuan Tamansiswa, ia sigap membenahi dengan Ing Madya Mangun Karsa. Namun saat dibutuhkan, prinsip Ing Ngarso Sung Tuladha ia terapkan. Ia telah menyelamatkan dengan semangat perjuangan meluruskan tujuan organisasi Tamansiswa.

*Ifah ambil dari resume tulisan Ifah untuk lomba resume implementasi budaya baca prov. Jatim thn. 2013. Bukunya sendiri berjudul Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara 1889 - 1959 karya Suparto Rahardjo*

No comments:

Post a Comment